suplemenGKI.com

SIAPA YANG PALING MENGERTI?

Ayub 19:13-27

 

PENGANTAR
Ketika menghadapi kesulitan, ada kalanya orang-orang yang kita harapkan menjadi teman justru tidak mengerti apa yang kita rasakan, tidak mendukung bahkan tidak menolong.  Kita merasa sendirian.  Dalam keadaan seperti itu, bisa saja kita berpikir Tuhan tidak berpihak dan membiarkan diri kita terpuruk dalam kesulitan.  Akhirnya kita berputus asa.  Bagaimana dengan Ayub di saat dia merasa sendirian?  Mari kita baca dan renungkan bacaan hari ini!

PEMAHAMAN

  • Apa yang dilakukan Ayub pada saat dia merasa sendiri? (ayat 21-23)
  • Keyakinan Ayub: siapa yang paling mengerti dirinya?
  • Jika saat ini saudara merasa tidak ada seorangpun yang mengerti, pelajaran apa yang saudara dapatkan melalui Ayub?
  • Apakah saudara memiliki keyakinan Tuhan mengerti saat saudara berseru pada-Nya?

Perikop yang kita baca ini bagian dari jawaban Ayub kepada Bildad yang berpendapat bahwa orang fasik pasti akan binasa (pasal 18).  Kata-kata Bildad telah menyakiti hati Ayub dan membuatnya kembali meratap dan hampir putus asa.  Ayub berkata “Berapa lama lagi kamu menyakiti hatiku, dan meremukkan aku dengan perkataan?  Sekarang telah sepuluh kali kamu menghina aku, …” (ayat 2-3).  Ayub berteriak, menjerit, berseru kepada Tuhan mohon keadilan (ayat 6-7, renungan kemarin).  Semua orang telah meninggalkannya: keluarga, sahabat, anak-anak, budak bahkan dia merasa Allah sendiri juga meninggalkan dirinya (ayat 13-22).  Sehingga Ayub merasa sendirian dan takut.  Tetapi dalam keputusasaan itu Ayub masih memiliki harapan.  Dia berbicara tentang Penebus (ayat 23-27, bacaan hari ini).

Ayub tidak hanya kehilangan harta benda, anak-anak, dan kesehatannya tetapi juga kehilangan teman.  Teman-temannya tidak berpihak padanya.  Ayub meratap bahwa ia sekarang dikucilkan oleh saudara, kenalan, kaum kerabat, dan kawan-kawannya.  Tidak berhenti di situ, ia pun diasingkan oleh anak dan budaknya (ayat 13-16) dan bahkan oleh istrinya sendiri (ayat 17).  Ejekan tidak saja diterimanya dari teman karibnya, tetapi juga dari anak-anak kecil (ayat 18-19).  Tidak heran pada akhirnya dengan memelas Ayub memohon kepada ketiga sahabatnya itu, “Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku.” (ayat 21).  Namun, meskipun Ayub bergumul sendirian, ia menghampiri Tuhan.  Itu sebabnya ia tetap berkata dengan yakin, “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup dan Ia akan bangkit di atas debu.” (ayat 25).  Ayub datang kepada Pribadi yang tepat: Tuhan sendiri.  Ia membawa ketidakmengertian dan kekecewaannya kepada Tuhan.  Sekarang Ayub tidak sendirian lagi.  Meski sahabat-sahabatnya tidak memahami keadaannya, Tuhan mengerti.

Apa yang kita pelajari hari ini?  Pertama: Tuhan selalu mengerti.  Datanglah pada-Nya yang mengerti kepedihan kita bahkan sebelum kita mengucapkan sepatah kata pun.  Kedua: setiap kita membutuhkan dukungan dari orang-orang yang ada di sekitar.  Maka, jadilah teman yang baik bagi siapa pun yang sedang merasa sendiri, sepi dan menderita.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Teman mengerti sebagian tentang diri kita, tetapi Tuhan mengerti seluruhnya.  Dialah satu-satunya tempat kita mendapatkan kasih sayang dan pertolongan.

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran firman-Mu hari ini.  Mampukan aku untuk selalu ingat bahwa Engkau ada dan selalu mengerti seluruh hidupku.

TINDAKANKU
Aku mau datang kepada Tuhan sebab Dialah yang selalu mengerti seluruh hidupku.  Sebagai wujud imanku, aku mau menjadi teman yang baik bagi ………… (sebutkan nama teman di kantor, pelayanan, anggota keluarga, dll) yang sedang menghadapi kesulitan agar tidak merasa sendiri, sepi dan putus asa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«