suplemenGKI.com

Selasa, 5 Maret 2013

04/03/2013

Yosua 5:9-12.

 

“Hari Ini Telah Ku Hapuskan Cela-mu”

 

Pengantar:
Kadangkala perseteruan antar kelompok atau antar komunitas yang diakibat oleh satu atau dua orang oknum bisa berlanjut sampai bertahun-tahun, sebelum ada upaya rekonsiliasi dari ke dua belah pihak. Rekonsiliasi merupakan jalan terbaik untuk memulihkan hubungan ke dua belah pihak. Pada bacaan kemarin kita menjumpai tindakan Allah membuka lembaran baru hubungan-Nya dengan umat Israel melalui ritual sunat kepada umat Israel yang lahir di dalam perjalanan menuju Kanaan, setelah seluruh angkatan umat Israel dari Mesir mati. Dengan demikian Allah kini tidak lagi berhadapan dengan Israel yang penuh cela karena tidak mau mendengar firman Tuhan (Yos 5:1-6) Itulah tindakan rekonsiliasi Allah dengan umat-Nya.

Pemahaman:

  1. Apa yang ingin Allah nyatakan kepada umat Israel dengan pernyataan “Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu” ? (9)
  2. Apa makna perayaan Paskah umat Israel, terkait dengan rekonsiliasi dengan Tuhan? (10)
  3. Mengapa setelah rekonsiliasi terjadi mereka tidak lagi makan manna? (11-12)

 

Sebagaimana dalam renungan kemarin kita mengetahui bahwa manka sunat adalah merupakan suatu tanda perjanjian ikatan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Maka sejak itu tidak ada lagi umat yang bercela dipandangan Allah. Dengan kata lain, Allah telah memperbaharui hubungan-Nya dengan umat-Nya, kemudian memperkenankan umat untuk me nikmati berkat Tuhan yang dijanjikan yaitu kemakmuran Kanaan.

Perayaan Paskah sendiri merupakan tonggak pemulihan tanggungjawab umat Israel sebagai umat yang terikat perjanjian dengan Tuhan. Melalui Paskah mereka diingatkan akan peristiwa besar dan ajaib yang sudah dilakukan Allah dalam rangka penebusan atas umat-Nya di masa lampau ketika mereka keluar dari Mesir (Lih. Kel. 12) Kemudian Paskah juga menandakan bahwa mereka mulai menikmati berkat melimpah dari negeri Kanaan yang Tuhan sudah berikan kepada mereka sebagai tanah perjanjian. Dengan demikian dimulai pula suatu siklus kehidupan normal umat Israel sebagai sebuah bangsa. Maka berhenti pula Tuhan menyediakan manna bagi mereka, karena kehidupan mereka telah berubah menjadi masyarakat yang memiliki tanah perjanjian tidak lagi sebagai bangsa pengembara di padang gurun.

 

Refleksi:

Seandainya kita berani merenungkan tentang kegagalan, keberdosaan dan kedegilan hati kita maka kita akan berkata dalam hati kita “Sungguh saya membutuhkan rekonsiliasi dengan Tuhan” Bagaimana tidak, bukankah kita terlalu banyak melakukan kesalahan di hadapan Tuhan? bukankah kita terlalu egois dalam menjalani hidup dengan mengabaikan perintah Tuhan? Tetapi sebagai mana Tuhan telah merekonsiliasi hubungan-Nya dengan Umat Israel, maka Allah yang sama juga siap merekonsiliasikan hubungan kita dengan-Nya, jika saja kita bersedia merendahkan hati di hadapan-Nya.

 

Tekad:                  

Tuhan, aku ini adalah orang yang tidak layak dihadapan-Mu, tolonglah agar aku berkenan mengalami dan menerima rekomsiliasi dari-Mu, karena hanya karena kemurahan-Mu saja aku dapat pulih kembali hubungannya dengan Engkau.

 

Tindakan:

Aku akan menyediakan waktu untuk merenungkan, menemukan apa saja tindakanku yang telah membuat hubunganku dengan Tuhan menjadi rusak, dengan tanpa ragu atau malu aku memohon agar Tuhan menolong aku untuk berani berekonsiliasi dengan Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«