suplemenGKI.com

Mazmur 29:1-2

 

“Kemuliaan hanya bagi Tuhan”

Pengantar:
Ketika kita mendengar kata “Mulia” maka pikiran kita segera mengarah pada sosok atau pribadi yang berpengaruh atau terhormat, misalnya seorang pembesar atau pemimpin.  Pribadi atau sosok tersebut dipandang mulia karena memiliki posisi lebih tinggi dari yang lainnya. Dengan posisi yang demikian sosok atau pribadi tersebut dapat menjadi panutan, teladan bahkan penentu kebijakan-kebijakan yang penting dalam komunitasnya, misalnya di tempat di mana ia memimpin. Hari ini tema renungan kita “Kemuliaan hanya bagi Tuhan”

Pemahaman:

  1. Siapakah yang dimaksud oleh pemazmur tentang penghuni sorgawi di ayat 1?
  2. Bagaimanakah seharusnya memuliakan Tuhan menurut ajakan pemazmur di ayat 2?

Mazmur 29 adalah Mazmur pujian yang ditulis oleh Daud dengan bertemakan badai untuk memperlihatkan kuasa dan kebesaran Allah. Beberapa penafsir menyimpulkan Daud menuliskan Mazmur 29 ini pada saat terjadinya badai besar yang disertai guntur, kilat dan hujan khususnya jika dihubungkan dengan pasal 28, Daud berseru kepada Tuhan karena merasa terancam oleh sesuatu yang sangat dahsyat dan membahayakan yaitu badai yang sedang terjadi. Pada pasal 30 judul perikopnya: Nyanyian syukur karena selamat dari bahaya. Itu sebabnya pemazmur menaikan pujian syukur untuk mengingat pertolongan Tuhan yang telah dialaminya. Yang menarik adalah ajakan pemazmur kepada penghuni sorgawi, siapakah yang dimaksud? Beberapa penafsir mengarah pada anak-anak Allah, ada juga yang mengarah pada malaikat dan ada juga yang mengarahkan pada umat Israel (Bank Maz 89:7Kel 4:23Ula 14:1; Kis 17:28) Namun saya lebih senang dengan pandangan Matthew Henry yang mengarah pada mereka yang berkuasa baik yang diwariskan atau yang diperoleh karena kesempatan, supaya jangan ingin dimuliakan lantas tidak mau memuliakan Tuhan yang seharusnya dimuliakan. Pemazmur ingin mengingatkan agar siapapun, apapun posisi manusia semua wajib memuliakan Tuhan saja dengan sasaran yang benar yaitu nama Tuhan artinya pribadi Tuhan bukan kepada apa yang Tuhan berikan, misalnya berkat-berkat-Nya dan sebagainya. Memuliakan Tuhan berhiaskan kekudusan: sungguh-sungguh, tulus, jujur dan benar.

Refleksi:
Jika saudara berkesempatan untuk menjadi orang yang posisinya cukup penting entah di  pekerjaan, organisasi atau di gereja tentu saudara dihormati atau disegani oleh orang-orang di sekitar saudara bukan! Namun tidak jarang kita tergoda untuk ingin dimuliakan sehingga lupa bahwa seharusnya Tuhanlah yang dimuliakan bukan kita. Berhati-hatilah dengan godaan demikian agar kita tidak mencuri kemuliaan yang adalah bagian Tuhan.

Tindakanku:
Jika Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk menempati suatu posisi penting di manapun, kita harus tetap menempatkan Tuhan pada posisi yang termulia, bukan diri kita.

Tekadku:
Tuhan, kami mohon ampun kepada-Mu karena terkadang kami mengambil kemuliaan yang seharusnya adalah menjadi bagian-Mu. Ajarkan kami untuk tetap memuliakan Tuhan apapun posisi kami dan siapapun kami di hadapan-Mu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«