suplemenGKI.com

HIDUP YANG MEMULIAKAN TUHAN

Mazmur 146:1-4

 

Pengantar

Dalam sebuah kebaktian, seorang Pengkhotbah memberikan sebuah pertanyaan kepada jemaat yang saat itu mendengarkan khotbahnya. Pengkhotbah itu bertanya, “apa tujuan saudara hidup di dunia ini?” Kemudian ada seorang pemuda dengan iseng menjawab, “hidup untuk menikah”. Lalu seorang muda lain lagi menjawab, “hidup untuk menikmati dunia yang Tuhan ciptakan”.

 Saudara, hidup bukan sekedar untuk menikmati dunia ciptaan Tuhan. Jika kita berfokus untuk menikmati, maka bisa jadi kita akan terjebak akan keinginan untuk lebih dan lebih lagi. Tetapi ketika kita memahami bahwa tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, maka kita akan menjadi orang-orang yang bersyukur atas kasih dan kebaikan Tuhan.

Pemahaman

  • Ayat 1-2         : Komitmen apakah yang dimiliki oleh pemazmur dalam hidupnya?
  • Ayat 3-4         : Mengapa pemazmur memilih dan mengambil komitmen untuk memuliakan Tuhan?

Mazmur 146 sangat menarik, karena berawal dan berakhir dengan kata “Haleluya”, sebuah kata yang merangkum banyak pujian kepada Allah. Mazmur ini mencerminkan keadaan, pemikiran, pada zaman pasca-pembuangan. Di ayat 1-2, pemazmur berkomitmen untuk memuliakan Tuhan selama hidup dan bermazmur bagi-Nya selagi ia ada. Pemazmur mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang terpuji dan termulia. Pemazmur memilih komitmen untuk memuliakan nama Tuhan karena ia sendiri telah mengalami kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Di ayat 3 pemazmur mengingatkan untuk tidak percaya pada para bangsawan dan kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Pemazmur sendiri telah mengalami bagaimana dirinya mengandalkan manusia. Manusia, apapun itu kedudukan maupun jabatannya, penuh dengan ketidakberdayaan dan kelemahan. Mengandalkan manusia adalah suatu kesia-siaan.  Pertolongan yang didapat dari manusia hanyalah sesaat dan tidak tuntas. Ia menyadari bahwa tidak mungkin untuk terus-menerus berharap pada pertolongan manusia yang fana, yang mana hidup dan pemikirannya akan berakhir ketika tubuhnya kembali menjadi debu (ayat 4).

Refleksi
Berdirilah sejenak dan pandanglah keluar. Ketika saudara memandang keluar, tentu ada banyak orang yang lalu-lalang untuk melakukan aktivitasnya di hari ini. Orang-orang dunia menganggap bahwa kesuksesan dan materi adalah hal mutlak yang harus dituju di dalam hidup. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita masih menganggap bahwa pencapaian yang dimiliki berasal dari kerja keras diri  sendiri dan campur tangan orang lain? Hidup yang kita miliki adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Pertolongan manusia sangatlah terbatas, namun pertolongan Tuhan tidak pernah terbatas.

Tekadku
Tuhan, ajarlah aku untuk selalu menghargai waktu yang Kau berikan dengan selalu bertekad untuk memuliakan nama-Mu di segala aspek kehidupanku.

Tindakanku
Mulai hari ini aku akan bertekad untuk mengubah pola pikirku dengan memandang segala sesuatu yang ada padaku berasal dari Dia, oleh Dia, dan akan kembali untuk hormat dan kemuliaan nama-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«