suplemenGKI.com

Yesaya 58:8-12.

 

“Hidup keagamaan yang menyenangkan hati Tuhan”

Pengantar:

Seorang wanita berusia lanjut dengan tongkat di tangannya bercerita tentang bagaimana ia menyaksikan angin badai menghempaskan pohon tua raksasa di halaman rumahnya kepada sekelompok kecil orang di desanya.Dengan suara serak karena emosi dan kesedihan yang masih membara di hati wanita tua itu menceritakan bahwa badai itu tidak hanya menumbangkan pohon raksasa di halaman rumahnya, tetapi juga telah merobohkan tembok batu yang indah. Dengan suara lirih ia kerkata “Suami saya membangun tembok itu setelah kami menikah, kami menyukai tembok itu! Sekarang tembok itu tidak ada lagi; sama seperti dirinya” (baca: suaminya) Rupanya tembok batu indah yang telah roboh itu adalah kenangan manis yang ditinggalkan sang suami terkasih. Esok paginya sekelompok kecil orang yang telah mendengar cerita nenek tua itu dengan sukarela dan sukacita membersihkan pohon raksasa yang roboh itu. Saat wanita tua itu melihat para pekerja sedang membersihkan pohon yang tumbang, ia pun tersenyum lebar. Ia semakin tersenyum lebar lagi ketika  melihat dua orang dewasa sedang mengukur dan membangun kembali tembok batu kesayangannya itu! Tindakkan orang-orang itu telah mengembalikan keceriaan sang wanita tua.

Pemahaman teks:

  1. Bagaimana hidup keagamaan yang menyenangkan hati Tuhan? (v. 8-11)
  2. Apakah penghayatan dari pernyataan di ayat 12?

Pernyataan “…terangmu akan merekah seperti fajar…kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu” Pernyataan-pernyataan tersebut dapat dihayati sebagai sebuah kesaksian hidup keagamaan yang dapat dirasakan, dialami dan dinikmati oleh orang lain sehingga nama Tuhan dimuliakan. Pada ayat 9c terdapat pernyataan-pernyataan “….Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesama dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah” Kemudian dikontraskan dengan pernyataan di ayat 10a “apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas…” dapat dipahami sebagai hidup yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, tidak menindas orang lemah, tidak berlaku semena-mena terhadap sesama, melainkan hidup suka memperhatikan, mempedulikan dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan sekalipun harus mengorban miliknya sendiri. Itulah yang dikehendaki Tuhan yang menyenangkan hati-Nya dan  memuliakan-Nya. Karena hidup keagamaan yang demikian maka Allah sangat menghargainya, sehingga Allah akan lebih melibatkan lagi dalam pelayanan-pelayanan yang lebih besar lagi bagi kemuliaan nama-Nya (v. 12)

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak. Jika kita jujur bertanya pada diri sendiri, manakah yang lebih sering kita lakukan: Membuat orang marah, kecewa, sedih dan menangis? Atau membuat orang senang, tersenyum dan gembira? Ketika kita suka membuat orang senang, tersenyum dan gembira sesungguhnya kita sedang menyenangkan hati Allah, sebaliknya ketika kita suka membuat orang marah, kecewa, sedih dan menangis maka kita sedang tidak menyenangkan hati Allah.

Tekadku:
Tuhan, mampukan saya agar bisa menolong orang yang sedih jadi tersenyum, yang menangis jadi tertawa, yang terluka terobati agar mereka dapat memuliakan nama-Mu.

Tindakkanku:
Saya akan menceritakan tentang kasih, kebaikan dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka yang sedih, menangis dan terluka dengan uluran tangan dan kepeduliaan yang tulus walalupun hanya kecil dan sederhana.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«