suplemenGKI.com

Bacaan : Ulangan 6: 1-9 ( lanjutan )

Perintah utama.

Hampir 40 tahun bangsa Israel berputar-putar di padang gurun. Selangkah lagi mereka akan memiliki tanah perjanjian. Bayangan tentang tanah perjanjian  yang subur, berlimpah susu dan madu begitu kuat menghiasi benak mereka.      Di tepian sungai Yordan inilah Musa berdiri bersama generasi baru Israel yang siap memasuki serta menduduki tanah perjanjian tersebut. Namun sebelum mereka masuk ke negeri itu mereka harus dipersiapkan lebih dahulu. Bukan untuk berperang, tetapi tentang bagaimana hidup dalam kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. Bukan kehidupan sesaat tetapi untuk seumur hidup mereka sebagai bangsa!

Pertanyaan Penuntun:

  1. Mengapa generasi baru ini masih perlu terus diberi perintah yakni ketetapan dan peraturan dari Musa, padahal Musa ini tidak akan terus bersama mereka di tanah terjanji?
  2. Apa perintah utama yang disampai Musa kepada mereka? Dan apa yang harus mereka lakukan untuk dapat terus menerus menyampaikan hal itu dari satu generasi ke generasi yang lain?

Tanah perjanjian yang akan mereka duduki bukanlah wilayah tak bertuan. Di tempat tersebut diam banyak bangsa dengan semua budaya serta keyakinan yang mereka miliki. Keyakinan yang tentu saja berbeda dengan keyakinan yang mereka punya. Ayat 15 menyatakan dengan jelas tentang allah-allah yang lain yang disembah oleh bangsa-bangsa yang diam di tanah tersebut! Dan Tuhan yang esa itu juga adalah Allah yang pencemburu, sehingga mereka sedari awal sudah diberi peringatan untuk tidak main-main dengan hal itu!

”Syema”  yang menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang esa dan benar, haruslah terus ditanamkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Dan ”syema”  ini terus diulang-diulang di berbagai kesempatan dalam kehidupan umat Israel! Dalam kebaktian di rumah ibadat (sinagoge) selalu dimulai dengan kalimat ini. Di samping itu ketiga nas ”syema” itu ditaruh di dalam suatu kotak kecil yang disebut filakteris & dikenakan oleh orang Yahudi saleh di atas dahinya dan di pergelangan pada saat ia berdoa. Tuntutan untuk mengenakan filakteris itu ada di Ulangan 6: 8. Terakhir ”syema” itu ditempatkan dalam sebuah tabung kecil yang disebut Mezuzah yang ditaruh pada pintu rumah orang Israel. Maksud dari pembuatan Mezuzah itu adalah untuk mengingatkan orang Israel akan Allah setiap kali mereka pergi meninggalkan rumah dan datang kembali ke rumah.

Semuanya itu harus diperhatikan oleh umat Israel, bahkan hal itu harus diajarkan berulang-ulang kepada anak-anaknya. Kata mengajarkannya berulang-ulang (Ibrani: Shanan) berarti ’meruncingkan’ atau ’mempertajam.’ Artinya umat mereka diajak untuk berusaha sekuat tenaga dan dengan segala keahlian yang ada, menjelaskannya dengan cara yang semakin baik. Tujuaannya semata-mata agar generasi berikutnya juga dapat menghayati kasih Allah. 

Sekarang bagaimana dengan kita? Apakah kita masih hidup dengan meyakini Dia adalah satu-satunya Allah yang benar, ataukah masih ada allah-allah lain dalam kehidupan kita? Jika kita sudah mengenal Allah yang benar di dalam dan melalui Yesus Kristus—Juruselamat kita, apakah kita sudah mencoba menjadi teladan buat anak-anak kita, sehingga anak-anak kita juga mengenal-Nya? Kita mungkin dahulu sudah melakukannya, tetapi akhir-akhir ini—mungkin oleh karena kesibukan kita yang bertumpuk—kita tidak lagi melakukannya. Maukah kita memulainya sekali lagi, demi anak-anak kita?

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«