suplemenGKI.com

Bersyukur kepada Allah

Maz. 118:1-2, 14-24

Pengantar

Dalam masa pandemi yang sudah berlangsung satu tahun ini, sikap bersyukur tentu bukan suatu hal yang mudah. Namun hari ini kita akan belajar kembali tentang sikap bersyukur tersebut. Dan Mazmur 118 ini merupakan landasan yang baik sekali bagi perenungan kita.

Pemahaman

-  Hal-hal apa saja yang selama ini menjadi penghalang bagi kita untuk menaikkan syukur kepada Allah?

-  Apakah yang menjadi alasan bagi Pemazmur untuk bersyukur kepada Allah?

Kalau kita memperhatikan dengan seksama bahan perenungan hari ini, maka kita akan melihat bahwa ayat 1 merupakan tema dari Mazmur 118 ini. Sedangkan ayat 2-4 merupakan suatu pujian litani (bersahut-sahutan) dengan refrein “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” Dengan mencermati hal-hal ini, kita dapat membayangkan betapa cerianya suasana yang tercipta tatkala Mazmur ini dinyanyikan.

Namun, tahukah kita bahwa konon Mazmur 118 ini adalah salah satu mazmur yang dinyanyikan oleh Kristus dan para murid-Nya sesaat sebelum mereka pergi ke taman Getsemani yang berlanjut dengan rangkaian peristiwa yang sangat menyakitkan: pengkhianatan dari Yudas Iskariot, berbagai penghinaan dalam proses penangkapan dan pengadilan, serta berakhir dengan penyaliban Kristus. Dan Kristus tentu mengetahui rangkaian peristiwa yang akan menimpanya itu. Dengan menyadari akan situasi yang dialami Kristus tersebut, dapatkah kita membayangkan bagaimana perasaan Kristus pada waktu menyanyikan mazmur 118 ini? Tidak ada salahnya kalau kita mengambil waktu sejenak untuk membaca kembali mazmur 118 ini dengan membayangkan perjalanan Kristus ke taman Getsemani serta Golgota.

Salah satu alasan yang dikemukakan Pemazmur untuk bersyukur pada Allah adalah ayat 18, “TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut.” Melalui ayat ini kita melihat bagaimana sikap Pemazmur dalam menghadapi kesesakan hidup. Kalau Pemazmur pada akhirnya memuji Tuhan setelah melewati ketidaknyamanan dalam hidupnya, hal itu menunjukkan bahwa Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan di dalam kesulitan hidupnya itu. Pemazmur tidak kecewa kepada Allah, sebaliknya, dalam kesesakan itu Pemazmur tetap bersandar kepada Allah sampai akhirnya ia mengalami tangan Tuhan yang melakukan keperkasaan (ay. 15). Sungguh bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, tetapi akan menjadi pengalaman yang indah setelah kita lalui. Pada akhirnya Pemazmur memotivasi sesamanya, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (ay. 24)

Refleksi (kontemplasi):

Apakah kita sekarang ini seperti sedang menuju taman Getsemani, taman di pergumulan kita? Masih mampukah kita menaikkan pujian syukur? Ataukah kita sudah penuh dengan keluh kesah? Dalam rangka menghayati pengorbanan Kristus di kayu salib, marilah kita belajar menaikkan mazmur syukur sekalipun kita sedang mengalami berbagai pergumulan bagaikan di taman Getsemani.

Tekad:

Doa: Bapa surgawi, tolong saya agar dapat menjalani hidup ini dengan sikap hati yang penuh keyakinan bahwa sekalipun pergumulan hidup bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani, tetapi akan menjadi pengalaman yang indah setelah saya lalui bersama dengan Engkau. Amin.

Tindakan:

Hari ini saya akan menghafalkan Mazmur 118:24, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»