suplemenGKI.com

Pengkhotbah 2:18-23.

 

Siklus hidup monoton, maupun menambah hikmat juga sia-sia!

 

Pengantar:
Ada dua tipe mansuia di dunia ini, pertama: Orang yang nyaman dengan kehidupan yang monoton, konstan tanpa grafik. Tipe semacam ini, baiknya tidak mudah terpengaruh oleh perubahan apapun juga, tetapi buruknya akan sangat membosankan dan tidak indah sama sekali. Kedua: Orang yang selalu bergerak, berubah dan kreatif. Tipe ke dua ini akan sangat maju dalam banyak hal, kaya dalam pengetahuan dan variatif. Baiknya, hidup tidak membosankan dan mudah berkembang, buruknya ia akan stress dan frustrasi dengan kekonstanan apalagi ketika tidak lagi bisa menghasilkan sesuatu yang baru. Tetapi keduanya sama-sama memuakkan jika tidak mempunyai perspektif dan tujuan yang benar.

Pemahaman:

  1. Mengapa Salomo memandang siklus yang monoton maupun menambah hikmat/kreatif ke dua-duanya memuakkan? (18-20)
  2. Mengapa Salomo memandang sebagai sebuah kesedihan, kesia-siaan jika semua karya, perjuangan dan hikmat ditinggalkan kepada orang lain atau penerusnya? (21-23)

            Salomo, walaupun telah memiliki hikmat yang luar biasa, tetapi dia tetap berjuang untuk mencari, menambah dan mengasah menjadi sebuah karya nyata (Lih. 2:4-11) Namun Salomo ternyata muak terhadap hidup ini baik yang tipenya monoton maupun terhadap tipe kerja keras, banyak menghasilkan, penuh hikmat dan banyak mengumpulkan. Mengapa demikian? Salomo memandang kehidupan ini hanyalah sebuah siklus yang hanya mengulang-sesuatu yang telah terjadi atau yang telah dilakukan, dihasilkan sebelumnya (Lih. 2:12) Baginya, tidak ada artinya melakukan segala sesuatu yang telah pernah dilakukan oleh orang lain, dan bukan sesuatu yang baru. Maka itu sama juga dengan kesia-siaan.

            Ke-frustrasian Salomo, semakin meningkat ketika ia merasa bahwa hidup manusia akan berakhir dan mati, lalu semua kerja keras dan karyanya akan dinikmati oleh orang lain yang dianggapnya tidak pantas menikmatinya. The Wiclife Bible Commentary: Kesedihan dirasakannya jika kerja keras dan karyanya ternyata jatuh ke tangan orang yang bodoh dan tidak menghargai bahkan hanya memboroskannya saja. Pemikiran Salomo itu ternyata dipicu oleh perspektif yang salah terhadap penerusnya. Ketika perspektif kita tidak benar terhadap orang lain, maka apa yang kita karyakan menjadi sia-sia dan hanya menjaring angin belaka.

Refleksi:
Ketika kita berkarya, berjuang dan menghasilkan sesuatu apakah kita ingin menikmatinya sendiri atau kita lakukan, hasilkan, karyakan untuk kesejahteraan orang lain (baca: penerus kita)? Jika itu yang kita pikirkan maka kita terhindar dari frustrasi dan kesedihan, karena kita ternyata bisa bermakna bagi orang lain.

Tekad:
Tuhan, apapun karyaku, biarlah itu dapat dinikmati oleh siapapun juga, tanpa melihat mereka pantas atau tidak pantas, karena semuanya untuk kemuliaan Engkau saja.

Tindakan:
Mulai saat ini, apapun yang bisa aku karyakan bagi orang lain, aku memandangnya sebagai karya bagi Tuhan yang telah memampukan aku untuk berkarya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«