suplemenGKI.com

Rut 4:13-17.

 

Pengorbanan Yang Membawa Kebahagiaan

 

Pengantar:
Ada sepasang suami-istri, yang usianya masing-masing kira-kira (suami 75, istri 70 tahun) Mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang usianya kira-kira 35 tahun. Pasangan suami-istri tersebut sangat merindukan kehadiran cucu, tetapi masalahnya adalah sang anak belum juga menikah. Mereka terus berdoa agar anaknya segera mendapat jodoh. Tetapi sepertinya si anak belum juga tertarik untuk memiliki istri. Maka semakin cemas ke dua orang tua tersebut. Mereka kuatir kalau-kalau mereka meninggal dan tidak sempat menimang cucu. Suatu hari sang ibu berkata kepada anaknya “Nak, kapan kamu akan menikah, ibu dan bapakmu ini sudah lanjut usia, apakah kamu tidak kuatir, nanti kami akan meninggal dunia tanpa berkesempatan menimang cucu?” Mendengar pernyataan ibunya, si anak pun berpikir keras dan berdoa supaya Tuhan memberikan pendamping hidup baginya. Benar, tidak lama ia pun memiliki pacar dan menikah. Dalam setahun usia pernikahan, mereka dikaruniai anak laki-laki oleh Tuhan. Dan kehadiran cucu bagi ke dua orang tuanya sangat membahagiakan.

Pemahaman:

  1. Siapakah yang telah bertindak sebagai pembawa kebahagiaan bagi Naomi? (v. 13)
  2. Siapakah yang paling berbahagia, ketika Boas menebus Rut menjadi istrinya? (v. 14-16)

Jika kita membaca dengan cermat mulai dari ayat 1-12, kita menemukan dua
pribadi yang telah rela berkorban demi membahagiakan orang lain, yaitu Rut dan Boas. Setelah Rut melakukan apa yang diperintahkan mertuanya Naomi, Rut tidak serta merta mendapat kepastian bahwa Boas akan menjadi suaminya (band 3:16-18) Ada masa penantian yang belum pasti bagi Rut. Sedangkan Boas, ia sempat menawarkan kepada orang lain untuk mengambil peran sebagai pelindung atau menebus Rut (band 4:2-7) Maka sesuai dengan tradisi Israel, Boaslah yang pantas menebus Rut dan pusaka Elimelekh (4:8-10) Apa yang dilakukan oleh Rut maupun Boas adalah sebuah pengorbanan, demi kebahagiaan orang lain.

Ketika Boas dan Rut kemudian dikaruniai anak laki-laki oleh Tuhan, kebahagiaan meliputi Naomi dan keturunannya. Bukan hanya Naomi, tetapi seluruh kerabatnya pun turut berbahagia. Kebahagiaan itu kemudian menjadi alasan bagi para perempuan untuk memuji-muji Tuhan (v. 14) Suatu kesegaran jiwa menaungi Naomi dan keturunannya. Naomi mengasuh anak itu, sebuah kebanggaan yang tidak terkira. Bahkan para tetangga memberi nama kepada anak itu Obed yang artinya “Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki” Obed kemudian menjadi kakeknya Daud.

Refleksi:
Berkorban memang selalu tidak mudah, maka tidak banyak orang yang mau berkorban. Apalagi itu adalah untuk orang lain. Tetapi hari ini kita belajar, berkorban demi kebahagiaan orang lain itu adalah sebuah keindahan, ketika orang lain menikmatinya.

Tekad:
Aku siap untuk berkorban bagi orang lain, agar mereka juga merasakan kebahagian Tuhan.

Tindakkan:
Aku mau belajar berkorban bagi orang lain, seperti Tuhan Yesus telah rela berkorban bagi keselamatan diriku, meskipun hanya pengorbanan yang kecil, berdoa bagi orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«