suplemenGKI.com

Selasa, 3 Juli 2012.

02/07/2012

Mazmur 123:1-2

 

Sikap Terhadap Tuhan Yang Penuh Anugerah

            Sikap adalah mewakili seluruh keberadaan seseorang dalam meresponi sesuatu. Terkadang kita tidak sadar dalam bersikap. Bagaimana kita bersikap terhadap orang lain, memang sangat bergantung pada posisi, status dan kedudukan orang tersebut. Ketika berhadapan dengan orang yang lebih berpengaruh dalam banyak hal, maka sikap kita bisa lebih baik, tetapi ketika berhadapan dengan orang yang dalam tanda petik lebih di bawah atau sebaya dengan kita terkadang kita bersikap sekenanya.

Pernahkah kita menyelidiki hati kita, bagaimana bersikap terhadap Tuhan? Terkadang baik sadar maupun tidak,  kita sering bersikap yang tidak seharusnya terhadap Tuhan. Kita berpikir bahwa Tuhan adalah penuh anugerah, maka bagaimanapun sikap kita terhadap-Nya, itu bukan persoalan. Apakah bisa demikian? Dalam renungan ini kita mau belajar dari pemazmur dalam hal bersikap terhadap Tuhan yang penuh anugerah.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Apa yang saudara pahami tentang pernyataan pemazmur dalam ay. 1b?
  2. Makna apa yang hendak ditonjolkan pemazmur dengan ungkapan gambaran di ay. 2!
  3. Bagaimana sikap kita terhadap Tuhan, ketika kita meminta sesuatu dalam doa! Band ay. 2d.

 

Renungan:

Adalah hal yang umum di kalangan bangsa Israel saat itu, ketika mereka menaikan pujian atau berdoa, sikap tubuhnya menengadah ke langit. Sikap tubuh yang demikian menunjukkan atau mengekspresikan bahwa mereka mengarahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang posisinya lebih tinggi, terhormat dan berkuasa dari pada dirinya. Hal itulah yang hendak diungkapkan oleh pemazmur dengan pernyataan di ay.1 ini. Suatu seruan yang disampaikan pemazmur kepada Allah yang penuh anugerah yang sedia dan setia menerima permohonan dan kerinduannya. Tetapi dalam saat yang sama pemazmur tidak melupakan bahwa Tuhan juga berkuasa, berdaulat dan berhak menentukan apa yang dikehendaki-Nya kepada umat-Nya. Itulah rasa hormat, tunduk dan kasih pemazmur kepada Tuhan yang penuh anugerah.

Rasa hormat dan kasih pemazmur itu terus berkembang melalui kiasan yang digambarkan seperti sikap hamba laki-laki dan hamba perempuan terhadap majikannya. Seorang hamba harus senantiasa siap menanti, menyimak, memperhatikan dan melakukan perintah tuannya atau siap menanti  uluran dari tangan majikannya. Seorang hamba juga harus cepat tanggap dan mampu mengantisipasi apa yang menjadi kehendak tuannya. Melalui kiasan tersebut pemazmur menekankan betapa pentingnya hidup bergantung, bersandar dan tunduk kepada Tuhan yang penuh anugerah sekaligus berkuasa dalam hidupnya.  Pemazmur bersikap realistis mengingat dirinya adalah hamba. Yaitu senantiasa setia serta bergantung penuh kepada Tuhan untuk mendapatkan pertolongan, tetapi di saat yang sama pemazmur juga tidak memanfaatkan Tuhan yang penuh anugerah dengan memaksa Tuhan untuk memenuhi harapan dan kebutuhannya. Perhatikan kalimat “Sampai Ia mengasihi kita” pernyataan itu menunjukkan keberserahan, kebergantungan pemazmur kepada Tuhan namun tetap menyerahkan semua kepada kehendak Tuhan.

Saudara terkadang kita tidak bersikap yang benar terhadap Tuhan yang penuh anugerah. Kita sering meminta kepada Tuhan tanpa tahu diri, kita berpikir Tuhan penuh anugerah maka wajar kalau kita mendesak, memaksa dan menuntut Tuhan agar menjawab apa yang menjadi keinginan kita. Kita lupa bahwa Tuhan adalah bersemayam di Surga, dengan kata lain Dia berkuasa, independen dan berhak menentukan apa yang hendak Dia lakukan bagi umat-Nya. Mari kita belajar bersikap benar kepada Tuhan yang penuh anugerah dan berkuasa ketika kita berdoa, memuji dan menyembah. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«