suplemenGKI.com

Kisah Para Rasul 5:17-18.

 

Iri Hati Membuat Orang Bertindak Di Luar Peri Kemanusiaan

Pengantar:

Iri hati adalah merasa tidak senang melihat kelebihan, kebaikan keberuntungan, kesenangan dan keunggulan orang lain. Awal dari iri hati hanyalah sebuah perasaan di dalam hati, tetapi jika iri hati terus dipelihara maka akan meningkat menjadi suatu tindakkan yang sangat berbahaya. Tidak jarang karena iri hati terjadi pertengkaran, permusuhan, dendam yang berujung pada pembunuhan. Iri hati bisa membutakan akal sehat, seperti yang dikisahkan pada bacaan hari ini.

Pemahaman:

  1. Apakah yang diperhatikan oleh Imam Besar dan para pengikutnya tentang kegiatan dan kehadiran Para Rasul sehingga mereka menjadi sangat iri hati? (v. 17)
  2. Apakah yang dilakukan oleh para Imam Besar terhadap Para Rasul? (v. 18)

Sudah jelas dapat kita perhatikan pada perikop-perikop sebelumnya, bahwa Para Rasul dalam pemberitaannya mereka dipakai Tuhan dengan luar biasa (Lih. renungan kemarin) Para Rasul itu menjadi sangat populer, dipercaya dan dicari oleh banyak orang. Dikatakan bahwa pengaruh atau popularitas mereka bukan saja di lingkup Yerusalem tetapi meluas sampai ke kota-kota di sekitar Yerusalem (v. 16) Kepopularitasan Para Rasul itu ternyata sangat mengusik kewibawaan, ketenaran dan keberadaan Imam Besar dan pengikut-pengikutnya. Semakin lama semakin banyak orang yang mulai meninggalkan mereka dan mengikuti ajaran yang diberitakan oleh Para Rasul dan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Hal itu sangat mengancam posisi, kedudukan dan kewibawaan para Imam Besar.

Merasa posisi dan kewibawaan mereka sebagai pemimpin agama Yahudi mulai terancam, maka kemudian mereka melakukan tindakkan yaitu menangkap Para Rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara kota. Menarik untuk diperhatikan, Pertama: Para Rasul itu ditangkap dan langsung dimasukkan dalam penjara. Sebuah tindakkan yang ditunggangi oleh rasa benci yang sangat dalam. Tanpa melalui prosedur yang wajar (pemeriksaan perkara) tetapi langsung dipenjara. Ini sebuah ekspresi iri hati tingkat tinggi atau kejahatan.  Saudara, sikap iri hati jika tidak segera diatasi akan membuahkan tindakkan kejam dan di luar peri kemanusiaan. Mari kita menyadari hal itu baik-baik.

Refleksi:

Kita sebagai anak-anak Tuhan, yang telah mengalami kasih karunia Tuhan Yesus. Mari kita renungkan baik-baik, masihkah kita dibelenggu oleh sikap iri hati terhadap kelebihan, keunggulan, kebaikan dan popularitas orang lain? Jika masih, berarti kita masih belum menjadikan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita, tetapi tuhan kita adalah ego, kesombongan dan tinggi hati. Mintalah agar Yesus membebaskan kita terhadap sikap iri hati.

Tekad:

Tuhan Yesus, aku ingin melepaskan sikap iri hati, tetapi aku tidak mampu. Tolonglah ya Tuhan bebaskan aku dari belenggu iri hati.

Tindakkan:

Belajar menerima, mengakui dan menghargai kelebihan, keunggulan dan kebaikan orang lain, sehingga bisa mengucap syukur atas keadaan diri sendiri yang adalah karunia Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«