suplemenGKI.com

KEBEBASAN VS PEMBEBASAN

Manusia cenderung menginginkan kebebasan dalam hidupnya; terlepas dari kenyataan apakah penggunaan kebebasan yang dimilikinya tersebut dapat dipertanggungjawabkan ataukah tidak. Kompleksitas manusia dalam menjalin relasi dengan sesama di lingkup kecil (keluarga) maupun luas (lingkup gereja, masyarakat, ataupun negara) menyebabkan kebebasan yang dimilikinya bergeser menjadi kebebasan yang terikat/terbatas, mengingat tiap-tiap individu memiliki hak asasi. Kebebasan yang dimiliki oleh manusia dengan tanpa sadar membuat manusia melupakan asal-muasal kebebasan dan esensi dari kebebasan. Pemenuhan hasrat manusia (berupa kebebasan) juga dialami oleh umat Israel. Mereka mengalami keterpurukan saat berada di pembuangan, mereka menginginkan sebuah kebebasan. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya setelah mereka berhasil mengalami sebuah pembebasan?

  1. Apakah yang terjadi pada umat Israel saat berada di pembuangan?
  2. Apakah peranan kebebasan bagi umat Israel sebagai umat yang telah mengalami pembebasan dari Allah?

Renungan

Pada penggalan mazmur yang telah kita baca terdapat tiga pembagian, yakni: Pertama, ayat 1-4 merupakan seruan kepada sekalian bangsa agar turut memuji Allah. Puji-pujian ini berasal dari Bait Suci yang telah didirikan kembali sesudah pembuangan dan itulah sebabnya nama Daud tidak tercantum dalam judul mazmur ini. Pada ayat-ayat tersebut digunakan kata erga (kata Ibrani dalam teks) yang dapat berarti bumi, tanah, dataran. Hal ini menunjukkan bahwa Allah (elohim) adalah Allah yang maha dahsyat, memiliki kekuatan yang besar (ay. 3), sehingga bumi sujud menyembah kepadaNya dan meninggikan (digunakan kata salakh dalam teks) namaNya (ay. 4). Allah yang dikenal oleh umat Israel bukan terbatas sebagai Allah Israel, tetapi Allah di atas segala allah, yang mampu membuat seluruh bumi sujud menyembah kepadaNya. Kedahsyatan pekerjaan Allah tidak dapat dibatasi oleh ukuran yang diciptakan oleh manusia. Masalah ataupun tantangan hidup yang kita alami memang terasa begitu menekan dan seringkali juga mengundang tanya mengapa terjadi pada kita. Kita ingin terbebas dari masalah ataupun tantangan hidup yang berat. Namun setelah terbebas dari masalah yang satu, lagi-lagi tetap meminta agar terbebas dari masalah yang lain, padahal tantangan hidup tidak akan pernah usai. Apakah Allah yang dahsyat akan terus mengabulkan keinginan manusia untuk terbebas dari masalah yang dihadapi? Sekali lagi, Allah tidak dapat dibatasi oleh ukuran manusia, kedahsyatan Allah di luar kendali manusia.

Kedua, ayat 5-7 merupakan pujian kepada Allah yang membuka jalan melalui Laut Teberau dan Yordan. Dan yang ketiga, ayat 8-9 merupakan pujian kepada Allah yang telah membebaskan umatNya dari pembuangan. Dua bagian ini sebagai sarana untuk mengingatkan peranan Allah dalam hidup umatNya. Apapun yang diderita dan ditanggung manusia, pada akhirnya manusia menerima pembebasan dari Allah. Seperti umat Israel, mereka memasyhurkan Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, yang mengantar ke tanah yang dijanjikan, yang menguji dan memurnikan melalui penderitaan zaman pembuangan untuk dibawa kepada kemerdekaan baru, dimana mereka dapat memuji Allah dengan bebas. Kebebasan yang mereka terima tersebut dibagi-bagikan (diperdengarkan) pada bangsa lain (ay.8) sehingga hanya nama Allah yang dipermuliakan.

Selamat berkebebasan yang membebaskan dan selamat membagi-bagikannya!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*