suplemenGKI.com

Mazmur 15

MENGUPAYAKAN KUALITAS HIDUP

 

Pengantar            
Mazmur ini menggambarkan situasi peribadahan umat di rumah Allah.  Di jaman Pemazmur, untuk dapat beribadah di rumah Allah, seseorang harus mendapat ijin dari imam.  Pada saat masuk dalam rumah Allah untuk beribadah, seseorang akan berhadapan dengan pertanyaan dari imam “Siapakah yang boleh menumpang dalam kemah Allah?”  Pertanyaan ini merupakan pertanyaan reflektif yang mengiringi umat di saat beribadah kepada-Nya.  Pertanyaan reflektif sebagai cermin diri di hadapan Allah.

Pemahaman        
Ayat 1-5: Bagaimana Daud mengajak umat merefleksi (= mengevaluasi) diri di hadapan Tuhan?

Ayat 2-5: Standar kualitas hidup seperti apa yang Pemazmur paparkan?

Sudahkah kita selalu mengevaluasi diri di hadapan Tuhan? 

Pemazmur mengajak umat Allah untuk memandang penting bagaimana setiap saat bertanya kepada diri sendiri seberapa layak memasuki kemah Tuhan.  Ada standar kualitas hidup yang Pemazmur paparkan sebagai pertanyaan reflektif  bagi umat Allah.  Kualitas hidup yang menjadi standar Allah yang ditulis Pemazmur yaitu berlaku adil, mengatakan kebenaran dengan segenap hati, tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat kepada teman, tidak menimpakan cela bagi tetangga, menyingkir dari orang yg menyingkirkan diri dari Allah, memualiakan orang yang takut akan Tuhan, berpegang sumpah walau rugi, tidak meminjamkan uang dengan riba dan tidak menerima suap.  Intinya adalah Allah menghendaki umatNya takut akan Dia dan berlaku adil terhadap sesamanya. 

Kebenaran yang menjadi perenungan kita untuk hari ini dan besok adalah Pertama, ketika hidup kita disejajarkan dengan kekudusan Allah, maka jelas tidak ada seorangpun yang dapat atau layak berhadapan dengan Allah dalam kemah dan gunung-Nya.   Dengan demikian yang melayakkan seseorang di hadapan Allah adalah anugerah dan kasih-Nya.  Lalu apakah kemudian itu berarti orang percaya bisa bebas menjalani hidup sesuai dengan keinginannya sendiri?  Tentu tidak!  Orang percaya seharusnya senantiasa berusaha untuk mempunyai kualitas hidup seperti yang dipaparkan pemazmur (ayat 2-5).  Sebab, buah anugerah dan kasih Allah dalam diri orang percaya adalah adanya kesediaan bertumbuh mengupayakan hal-hal yang berkenan kepada-Nya.  Kualitas hidup yang dipaparkan pemazmur harus menjadi ‘pertanyaan abadi’ agar kita berpenampilan ‘pantas’ di hadapan Tuhan dan sesama di saat kita beribadah maupun dalam keseharian hidup kita. 
(Bersambung besok)

Refleksi
Mari renungkan: apakah kita sudah mengupayakan dengan sungguh kualitas hidup yang takut akan Tuhan dan berlaku adil kepada sesama?

Tekadku
Tuhan mampukan aku senantiasa mengevaluasi diri di hadapanMu.  Mampukan aku takut akan Tuhan dan berlaku adil terhadap sesama dalam perkataan dan tindakan sebagai wujud syukur atas anugerah dan kasih-Mu.

Tindakanku
Hari ini aku mau mengupayakan kualitas hidup dalam hal ………… (berlaku adil, mengatakan kebenaran, tidak berbuat jahat kepada teman, dll)  sebagai wujud syukur atas anugerah dan kasih Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*