suplemenGKI.com

Kisah Para Rasul 8:26-40

TIDAK HARUS SPEKTAKULER

PENGANTAR
Sama seperti kebanyakan orang di sekitar kita, kita cenderung menyukai hal-hal yang spektakuler (menarik perhatian atau “mencolok mata”). Pemberitaan Injil yang disertai dengan tindakan-tindakan yang spektakuler lebih banyak diberitakan dibandingkan dengan pemberitaan Injil melalui percakapan yang sederhana. Bahkan, mungkin tanpa kita sadari, kita juga menganggap bahwa pemberitaan Injil dengan cara-cara yang spektakuler lebih efektif dibandingkan dengan cara-cara yang “biasa-biasa saja.” Benarkah demikian?

PEMAHAMAN
Dalam Kisah Para Rasul, nama Filipus muncul pertama kali di Kis. 6:1-7 sebagai salah satu dari tujuh pelayan (diaken) yang bertugas menyelenggarakan pelayanan sosial bagi para janda yang berbahasa Yunani. Mereka (termasuk Filipus) adalah orang-orang yang “terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat” (6:3). Berawal dari pelayanan sosial di Yerusalem, pelayanan Filipus terus berkembang hingga kemudian Filipus juga dikenal sebagai seorang “pemberita Injil” (21:8).

Seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin, pelayanan Filipus di Samaria meraih sukses besar. Berbagai mukjizat yang dilakukannya membuat banyak orang takjub dan percaya kepada Kristus (8:4-12). Namun, Tuhan tidak menghendaki Filipus menetap di kota tersebut. Dalam bacaan hari ini,Tuhan mengutus Filipus pergi ke sebuah tempat yang disebut “jalan yang sunyi” untuk menjumpai seorang sida-sida dari Etiopia dan memberitakan Injil kepadanya  (Kis. 8:26-35).

Ay. 27b-28   Siapakah orang yang harus ditemui oleh Filipus? Apa yang sedang dilakukannya pada waktu itu?

Ay. 29-35     Bagaimana cara Filipus memberitakan Injil kepadanya? (Bandingkanlah dengan cara yang Filipus lakukan kepada orang-orang di Samaria)

Orang yang harus Filipus jumpai adalah seorang sida-sida, yaitu seseorang yang mengkhususkan hidupnya untuk melayani seorang raja atau ratu. Sida-sida ini adalah seorang penganut agama Yahudi yang saleh. Ia melintas di jalan yang sunyi sepulang dari ibadat di  Yerusalem, dan Filipus menjumpainya ketika ia sedang membaca kitab suci.

Kepada sida-sida ini, Filipus tidak mendemonstrasikan mukjizat yang luar biasa seperti yang dilakukannya di hadapan orang-orang Samaria. Seperti kita tahu, tanda-tanda dan mukjizat dapat membuat seorang pemberita Injil lebih disegani dan lebih populer. Namun, Filipus yang berhikmat tidak tergoda dengan semua itu. Sesuai dengan situasi dan kebutuhan sida-sida ini, Filipus memberitakan Injil Yesus dengan cara yang nampaknya lebih sederhana, yaitu menjelaskan isi kitab nabi Yesaya yang sedang dibacanya.

REFLEKSI
Apa sesungguhnya yang membuat Anda lebih tertarik kepada pemberitaan Injil yang dilakukan dengan cara-cara yang spektakuler? Apakah hal itu mempengaruhi cara pandang Anda terhadap orang-orang yang melakukan pemberitaan Injil atau pelayanan dengan cara-cara yang lebih sederhana?

TEKADKU
Tuhan, ajarlah aku menghargai orang-orang yang selama ini memberitakan Injil dan melayani dengan cara-cara yang “biasa-biasa saja.”

TINDAKANKU
Aku akan mendoakan dan mendukung orang-orang yang memberitakan Injil dan melayani dengan cara-cara yang sederhana, yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitar mereka.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*