suplemenGKI.com

ALASAN MENUNGGU

Habakuk 2:1-4

 

PENGANTAR
Umumnya “menunggu” menjadi kegiatan yang membosankan;  apalagi bila yang ditunggu tidak kunjung datang.  Namun mempunyai “alasan” yang tepat akan menjadikan “menunggu” bukan hal yang membosankan.  Mari belajar dari sikap Habakuk yang menunggu dengan penuh keyakinan.

PEMAHAMAN

  • Ayat 1:  Apa yang dilakukan Habakuk?   Dan mengapa ia melakukan hal tersebut?
  • Ayat 2:  Apa yang menjadi jawaban Allah kepada Habakuk?
  • Ayat 3, 4:  Apa yang Allah tekankan kepada Habakuk tentang iman?
  • Alasan terbaik apa yang mendorong saudara tetap bekerja/mengerjakan pelayanan?
  • Adakah hasil akhir yang didapat bila tetap bertahan bekerja atau mengerjakan pelayanan?

Bukan hal yang mudah untuk tetap mempercayai bahwa segala keadaan (persoalan) bisa berubah menjadi lebih baik.  Apalagi bila yang dibicarakan dan diperjuangkan adalah Israel.  Pengalaman membuktikan bahwa persoalan yang silih berganti, bisa berasal dari luar ataupun dari dalam diri sendiri.  Persoalan  semacam ini juga menjadi bagian pergumulan Habakuk.  Bahkan secara pribadi, ia mempertanyakan kepada Allah, yang seolah membiarkan penindasan terjadi atas Israel.  Pertanyaan Habakuk merupakan bentuk koreksi kepada bangsanya yang telah meninggalkan Allah.  Habakuk yakin akan perubahan. Itu sebabnya ia bukan sekadar menunggu tapi “berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara.  Aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku” (ay.1).  Kalimat ini menyatakan keimanan Habakuk yang mampu melihat hal-hal yang lebih tinggi melebihi segala persoalan yang terjadi.  Habakuk tetap fokus pada janji pertolongan Allah.  Bukan pada persoalan yang tampak di depan mata.  Habakuk yakin sebagaimana Allah sendiri menyatakan, “orang benar itu akan hidup oleh percayanya” (ay.4).

Kehidupan Israel yang naik turun ada kalanya juga menggambarkan kehidupan rumah tangga.  Teladan Habakuk mengajarkan kepada kita untuk bukan hanya menyampaikan keluh kesah kepada Allah melalui doa;  tetapi juga sanggup mempercayai janji Allah yang memulihkan kehidupan keluarga.  Seperti Habakuk yang senantiasa “berdiri tegak” tanda kesiapsiagaan dan percaya;  demikian pulalah perjuangan iman kita bagi pemulihan keluarga.  Yakinilah bahwa Allah sedang bekerja mendatangkan kebaikan bagi keluarga kita.  Nantikanlah pertolongan Allah dan berjaga-jagalah agar kita diberi kesempatan melihat pertolongan Allah yang memulihkan keluarga kita.  Jadikanlah harapan akan pemulihan menjadi alasan bagi kita untuk menunggu.  Dan ingat, tidak ada kebaikan di dalam Tuhan yang berbuahkan hal-hal yang sia-sia.  Tuhan Yesus memberkati!

REFLEKSI
Harapan akan pemulihan keluarga menjadi alasan bagi kita untuk menanti dalam kesetiaan.

TEKADKU
Tuhan tolong aku untuk mau hidup percaya kepada-Mu yang saya buktikan dengan kesetiaan menanti karya-Mu dalam hidupku.

TINDAKANKU
Aku mau setia dan sabar menanti karya Allah dalam hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*