suplemenGKI.com

Yakobus 2:14-22

 

“Iman tanpa perbuatan adalan mati”

 

Pengantar:
            Ada sebuah cerita: Ketika seorang anak perempuan sedang asyik bermain lompat tali, tiba-tiba temannya datang dan berkata “Wah main lompat tali mah kecil, saya bisa main lompat galah, itu baru hebat” Anak perempuan itu berhenti main lompat tali, ia berkata pada temannya “Coba tunjukan bagaimana main lompat galah, kalau memang kamu bisa” Tapi temannya tidak bisa menunjukan bagaimana bermain lompat galah, bahkan galahnya saja ia tidak punya. “Nah kamu bohongkan, kalau tidak bisa lompat galah jangan bilang bisa, malu tahu!” Dialog kecil itu mungkin hanya cerita, namun bisa menjadi pelajaran terkait iman tanpa perbuatan adalah mati. Bacaan hari ini berbicara Iman tanpa perbuatan adalah mati.

Pemahaman:      

  1. Apakah penghayatan terpenting tentang iman itu? (v. 18-19, 23)
  2. Bagaimanakah wujud iman yang hidup itu sesungguhnya? (v. 14-17, 22)

Iman adalah keterhubungan kita dengan Allah sehingga kita dapat mengenal, mengakui, percaya kemudian menerima Tuhan Yesus menjadi Tuhan dan juruselamat dalam hidup kita  secara pribadi. Hal itu bisa kita lakukan karena Allah di dalam Yesus menyatakan diri dan berkarya nyata bagi kita dan kita sungguh-sungguh merasakan dan mengalaminya dalam hidup kita. Melalui penghayatan demikian sebagai orang-orang percaya ketika kita berkata bahwa kita beriman maka kita juga seharusnya menunjukan iman kita itu melalui karya-karya baik yang nyata sebagai buah bahwa kita beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Ayat 15-17, Yakobus menunjukan ciri iman yang mati melalui kisah: ketika seorang saudara membutuhkan uluran tangan dari sesamanya namun hanya diresponi dengan kata-kata belaka tanpa disertai tindakan nyata, maka itu bukanlah iman yang hidup melainkan iman yang mati karena imannya tidak mewujud dalam wujud tindakan nyata menolong sesama yang membutuhkan. Seseorang dikatakan memiliki iman yang hidup adalah ketika ia memiliki ketaatan melakukan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya, salah satu wujud ketaatan adalah berbagi pada sesama. Abraham disebut sebagai sahabat Allah karena imannya mewujud dalam ketaatan pada Allah (v. 22-23 band Kej 22:1-14). Mungkin kita tidak harus melakukan hal seperti yang dilakukan Abraham, tetapi ada banyak wujud perbuatan baik yang menyatakan Iman yang hidup, misalnya kepedulian pada sesama walaupun dalam hal sederhana tetapi didasari ketaatan pada Allah, itupun merupakan wujud iman yang hidup.   

Refleksi:
Iman yang hidup tidak harus berwujud spektakuler, hal-hal sederhana namun bernilai baik dan mulia yang dilakukan dengan tulus dan taat pada Tuhan itupun wujud iman yang hidup.

Tekadku:
Tuhan, ajarkan dan mampukan saya untuk mewujudkan iman yang hidup melalui karya-karya baik saya bagi sesama sebagai wujud ketaatan dan iman saya kepada-Mu.

Tindakanku:
Hari ini saya mau mendatangi seseorang yang saya tahu ia membutuhkan dukungan doa dan uluran tangan saya sesuai dengan apa yang bisa saya bagikan kepadanya, sebagai wujud iman dan ketaatan saya kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan dan mengasihi saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«