suplemenGKI.com

Maleakhi 3:4-5

 

Berlaku Adil Kepada Sesama Adalah Memperkenankan Hati Tuhan

            Dave Egner – seorang theolog modern pernah bercerita dalam forum acara tanya jawab di sebuah yayasan Ministry Partner of  RBC – USA. Dia bercerita tentang seorang bernama Nickolas, seorang anak Tuhan dari bekas negara Uni Soviet. Dia satu-satunya siswa dari sekolahnya yang menolak bergabung dengan kelompok politik pemuda yang berjuang mempertahankan paham komunis garis keras serta anti kekristenan. Nickolas yang mulai bertumbuh dalam pengenalan kepada Tuhan Yesus, tentu sangat berseberangan dengan pemahaman kelompok politik pemuda itu. Dampaknya Nickolas pun dikucilkan dalam pergaulan. Bukan hanya itu, tetapi dia juga diberi nilai sangat jelek yang tidak sepantasnya dia terima, karena sebenarnya dia termasuk anak yang genius. Ketidakadilan berikutnya, Nickolas tidak direkomendasikan oleh sekolahnya untuk melanjutkan study ke perguruan tinggi manapun di setiap negara bekas Uni Soviet. Bagi Nickolas perlakuan yang dia terima itu seungguh tidak adil, namun dia tetap teguh dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Saat ini Nickolas, adalah menjadi pendeta di sebuah gereja yang sedang berkembang di Belarus. Egner, menutup ceritanya dengan berkata “Ketidakadilan manusia terhadap sesama akan diganti dengan keadilan dari Tuhan”

 

Pertanyaan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Apa maksud dari pernyataan ayat 4, terkait dengan persembahan?
  2. Apa yang akan terjadi terhadap orang-orang yang berlaku tidak adil/tidak takut akan Tuhan (v. 5)
  3. Berlaku adil terhadap sesama, adalah wujud Iman yang benar kepada Tuhan. Sudahkah kita berlaku adil terhadap sesama sebagai Wujud iman kepada Tuhan?

 

Renungan:

Umumnya persembahan dipahami sebatas pemberian, pelayanan atau kurban, khususnya kalau mengacu pada hukum taurat. Tetapi sebenarnya memahami persembahan tidak boleh hanya sebatas hal-hal demikian saja, melainkan harus dipahami sebagai sebuah sikap Iman yang dilandasi oleh hati yang takut akan Allah. Jika pemahaman persembahan hanya sebatas ritual keagamaan, maka jangkauan makna persembahan akan terkurung pada area ritualitas keagamaan saja. Pernyataan nubuat dalam Maleakhi 3:4 terkait dengan persembahan yang berkenan kepada Tuhan adalah ketika persembahan itu menyentuh ranah kasih, keadilan, penerimaan dan perlakuan yang pantas kepada sesama tanpa harus dibatasi oleh perbedaan maupun status orang, itulah wujud iman yang sesungguhnya kepada Tuhan.

Sebagai konsekuensi jika persembahan yang tidak berkenan kepada Tuhan karena dilakukan hanya sebagai ritualitas keagamaan namun tidak dilandasi iman yang benar kepada Tuhan, maka akan dihakimi dan dihukum. Mengapa demikian, karena jika persembahan yang dilakukan tidak dilandasi dengan Iman yang benar kepada Tuhan dalam wujud: kasih, keadilan, penerimaan serta perlakuan yang pantas kepada sesama itu sama nilainya dengan: Perbuatan tukang sihir, orang-orang berzinah, bersumpah dusta dan menindas orang upahan, janda serta anak piatu (baca: kaum lemah) Dengan demikian sudah tidak berlaku adil terhadap sesama.

Pada renungan kemarin disinggung bahwa kedatangan Tuhan Yesus Kristus ke dua kali adalah akan menghakimi dan menghukum orang-orang yang tidak berlaku adil terhadap sesama. Termasuk mereka yang beribadah tetapi memungkirinya dalam perbuatan, perilaku dan sikap terhadap sesama. Barangkali kita perlu berefleksi, kemudian bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya mewujudkan iman yang benar kepada Tuhan dengan berlaku adil kepada semama tanpa memadang  perbedaan dan statusnya? sesungguhnya sikap demikianlah yang memperkenankan hati Tuhan. Amin.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*