suplemenGKI.com

Selasa, 27 Juni 2017

26/06/2017

Yeremia 28:12-17

BERSIKAP TEGAS MELAWAN DUSTA

PENGANTAR
Dalam bacaan kemarin, Yeremia 28:1-11, kita telah melihat cara Yeremia menghadapi Hananya yang menentang firman Tuhan yang disampaikannya. Yeremia tidak menggunakan paksaan dan kekerasan untuk melawan Hananya. Namun, ini tidak berarti bahwa Yeremia tidak bisa bersikap tegas dalam menyampaikan kebenaran. Selain menyuruh Hananya membuktikan nubuat yang disampaikannya, Yeremia juga dengan tegas memperingatkan Hananya bahwa dusta yang dilakukannya akan mendatangkan akibat yang fatal.

PEMAHAMAN

  • Ay. 12-14. Apa yang dilakukan Yeremia setelah Hananya mematahkan gandar dari tengkuknya? (lihat ay. 11c). Apa artinya bahwa gandar kayu itu akan diganti dengan gandar besi?
  • Ay. 15-17. Apa akibat dusta yang dilakukan Hananya? Kapan Hananya mati? (lihat ay. 17, lihat juga ay. 1).
  • Melalui peristiwa ini, apa saja yang dapat kita pelajari mengenai dusta dan cara menghadapinya?

Setelah Hananya mengambil gandar dari tengkuk Yeremia dan mematahkankannya (ay. 10-11), Yeremia tidak langsung bereaksi, melainkan pergi meninggalkan tempat itu (ay. 11c). Untuk apa? Yeremia menunggu sampai firman Tuhan datang lagi kepadanya (ay. 12). Inilah sikap seorang nabi dan hamba Tuhan yang sejati. Dengan demikian, Yeremia bisa sungguh-sungguh mengerti apa yang Tuhan kehendaki dan menyampaikan firman-Nya dengan tegas, tanpa keragu-raguan. Dan, memang Tuhan juga mempertegas firman-Nya. Gandar kayu yang dipatahkan Hananya itu akan diganti dengan gandar besi. Artinya, penolakan terhadap firman Tuhan akan mengakibatkan penderitaan yang lebih besar: kekuasaan raja Babel akan lebih kuat mencengkeram mereka.

Dusta yang dilakukan Hananya juga mendatangkan akibat yang fatal bagi dirinya sendiri, yaitu kematian. Ini berarti bahwa Tuhan memandang dusta sebagai dosa yang serius dan harus segera dihentikan. Dusta yang dilakukan Hananya dapat membuat banyak orang murtad (ay. 16). Itulah sebabnya, Tuhan bersikap tegas terhadap Hananya yang berdusta. Namun demikian, Tuhan juga bersikap adil dan penuh kasih. Kematian Hananya terjadi pada bulan ketujuh pada tahun itu (ay. 17), atau dua bulan sejak dusta yang dilakukannya (ay. 1, ”bulan yang kelima”). Tentu saja, waktu selama dua bulan masih cukup untuk bertobat, jika Hananya mau. Sikap yang tegas, namun tetap adil dan penuh kasih, adalah cara yang paling tepat untuk melawan dusta.

REFLEKSI
Masihkah Anda menggunakan dusta untuk mencapai tujuan Anda? Atau, untuk mengambil hati orang-orang di sekitar Anda? Atau, untuk ”menyelamatkan diri” dari kesulitan yang menghadang Anda?

TEKADKU
Ya Tuhan, berikanlah kepadaku keberanian untuk bersikap tegas, terutama pada waktu aku harus menyampaikan kebenaran. Mampukanlah aku melawan kecenderungan atau kebiasaanku berdusta.

TINDAKANKU
Dalam seminggu ini, aku akan meminta maaf kepada seseorang yang kepadanya aku telah berkata dusta dan menyampaikan kepadanya apa yang sebenarnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»