suplemenGKI.com

Yehezkiel 18:21-24

 

“Bukan langkah awal yang menentukan, tetapi langkah akhir”

Pengantar:
            Ada seorang anak usia SMA, sejak kelas satu SMA ia tinggal di sebuah asrama. Pengasuh asrama tersebut sangat senang melihat anak tersebut, karena kelihatannya: sopan, rajin, taat peraturan asrama, setia doa pagi dan sebagainya maka anak tersebut kemudian dipercaya menjadi ketua asrama putra oleh pengasuhnya. Awalnya semua berjalan dengan baik dan menyenangkan, namun setelah beberapa waktu kemudian, anak tersebut sudah mulai membantah, melakukan hal-hal yang melanggar peraturan asrama. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu semua, ia menjawab “sayakan ketua asrama putra” karena sikapnya itu ia pun dikeluarkan dari asrama tersebut. “Bukan langkah awal yang menentukan, tetapi langkah akhir”

Pemahaman:

1)      Apakah yang hendak ditonjolkan dalam Yehezkiel 18:21-24 ini?

2)      Apa konsekuensi logis dari Tuhan berikan kepada umat-Nya? (v. 22-24)

Yehezkiel 18:21-24 ini hendak menunjukkan perbandingan antara orang yang fasik (belum bertobat) dengan orang benar (dalam tanda petik sudah bertobat) di dalam perjalanan hidup masing-masing. Perjalanan hidup orang fasik: hidup bertentangan dengan kebenaran Tuhan,  sedangkan orang benar: hidup seturut dengan kebenaran Tuhan. Tetapi yang menarik adalah jika ada orang fasik yang dalam perjalanan hidupnya beralih kepada Tuhan alias bertobat, maka Tuhan menerimanya dan tidak mengingat segala kefasikannya, dengan kata lain ia akan diampuni, tetapi sebaliknya jika ada orang benar namun jalan hidupnya bertentangan atau melawan ketetapan Tuhan, maka segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat lagi oleh Tuhan, dengan kata lain segala kebenarannya tidak berlaku untuk menutupi segala kefasikan yang dilakukannya, bahkan “ia harus mati karena ia berubah setia kepada Tuhan”

Adalah suatu konsekuensi logis, manakala orang fasik, tetapi dalam perjalanan hidupnya ia kemudian bertobat dan menuruti ketetapan Tuhan, dikatakan dia pasti hidup, ia tidak akan mati, sedangkan manakala orang benar, tetapi dalam perjalanan hidupnya ia berubah setia dan menentang ketetapan-ketetapan Tuhan, maka ia harus mati karena dosa-dosa yang dilakukannya. Itulah konsekuensi logis yang wajar sesuai dengan keadilan Tuhan, perhatikan v. 25-29)

Refleksi:
Mari kita renungkan. Apakah kita adalah orang yang sungguh-sungguh konsisten sebagai orang benar, sekalipun banyak godaan yang menerpa kita, dengan tetap setia kepada Tuhan?

Tekad:
Tuhan, kuatkan saya agar tetap setia berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu sampai diujung perjalanan hidup saya.

Tindakan:
Berjuang menjaga api semangat untuk tetap setia berpegang pada kebenaran firman Tuhan sampai diujung perjalanan hidup.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*