suplemenGKI.com

Mazmur 118 : 1-2,12-23.

 

BERADA DI PUSAT BADAI

 

Pengantar
Apakah ada yang perrnah mengalami kejatuhan yang begitu hebat sehingga bisa mengatakan seperti yang ditulis pemazmur di ayat 13? Penulis buku “In the Eye of the Storm” pernah mengalaminya. Sang penulis, Brilliant Yotenega, menulis demikian dalam bukunya: “Jika semua pria mempunyai ego yang besar, malam itu ego saya seperti ditumbuk, sebelumnya saya berrpikir sudah menjadi sekecil lada, namun sepertinya ego saya masih harus ditumbuk lagi supaya sehalus serbuk.”

Pemahaman
Ayat 13, 18: Pengalaman yang seperti apakah yang dialami si Pemazmur?

Ayat 14, 16, 23: Bagaimana campur tangan Tuhan dalam kehidupan si Pemazmur?

 Ayat 17, 21, 24: Apakah yang kemudian dilakukan oleh si pemazmur oleh karena campur tangan-Nya?

Dari ayat 10-12 nampaknya sang pemazmur mencoba mendokumentasikan serbuan segala bangsa yang memusuhi bangsa Israel. Para penyerbu tersebut dikatakan seperti sekawanan lebah yang penuh semangat, ataupun laksana api duri yang menyala-nyala yang siap membakar hangus siapapun yang menjadi sasarannya!  Ini mengingatkan serbuan bangsa Amalek, Filistin, Amori, yang hampir meluluhlantakkan bangsa Israel. Umat didorong sampai jatuh dan hampir terinjak tidak berdaya. Untunglah pada saat yan tepat Tuhan turun tangan menolong umat-Nya.

Pengalaman lolos dari bahaya yang demikian mengancam itulah yang kemudian menginspirasi nyanyian (baca: mazmur) pengakuan iman umat sehingga mereka berkata:  “Tuhan itu kekuatanku & mazmurku Ia telah menjadi keselamatanku.”  Saat tidak ada alasan yang kuat untuk mereka berharap, maka pada saat itulah Tuhan bertindak. Semula seolah membiarkan badai itu menghajar mereka habis-habisan, menyerahkan mereka ke dalam tangan musuh, akan tetapi ternyata tangan kanan-Nya memberi kemenangan. Situasi yang mereka miliki mirip seperti batu yang semula dibuang oleh tukang bangunan. Tetapi, Allah mengubahnya menjadi batu penjuru (Mazmur 118: 22)

Kembali kepada situasi Brilliant Y. , penulis In the Eye of the Storm,  ketika sampai kepada klimaks pengalaman pribadinya. Saat itu secara ajaib dia mendapatkan jawaban atas persoalannya yang sangat pelik. Sebagai baris terakhir dari buku tersebut maka dia menulis demikian: ”Tubuh saya lunglai. Kaki saya tidak kuat menahan beban tubuh.  Saya berlutut, dan menangis seperti anak kecil. Kami sekeluarga lolos dari badai dengan selamat. Sejak hari itu, saya tidak pernah mempertanyakan penyertaan-Nya!

Pemulihan yang Tuhan berikan kepada umat-Nya memiliki tujuan agar umat mau menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan (Mazmur 118: 17). Keselamatan dan pertolongan Allah tersebut harus disebarkan oleh umat, agar seluruh umat manusia juga mengalami pengalaman yang sama.  Selain itu, karya keselamatan  Allah itu dapat mendorong mereka untuk mengucap syukur . “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mazmur 118: 29)

Refleksi
Ambillah waktu sejenak dan biarkanlah momen ini memberi kesempatan yang bening kepada Anda untuk menghadap hadirat-Nya yang kudus.  Biarlah saat ini menjadi saat yang sangat pribadi bagi Anda. Hanya ada Anda dan Tuhan Yesus semata.  Nyatakan kerinduan Anda kepada-Nya! Ingat-ingatlah apa saja yang telah Dia buat dalam Anda!

Tekadku
Ya Tuhan saya berterima kasih karena Tuhan telah mengangkat hidup saya dari lumpur dosa, dan Tuhan selalu menyatakan pertolonganmu.

Tindakanku
Saya sadar bahwa hidupku sudah ditebus Tuhan dan menjadi milik Tuhan, maka saya akan menceritakan pengalaman saya kepada orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«