suplemenGKI.com

Selasa, 26 Juni 2018

25/06/2018

MENGUBAH CARA PANDANG (2)

Ratapan 3:22-33

Pengantar
Seorang ibu meminta anak sulungnya untuk membeli sebotol minyak. Dalam perjalanan pulang, si sulung terjatuh. Minyak dalam botolnya tumpah separuh. Lalu ia berkata kepada ibunya, “Bu, tadi saya jatuh dan menumpahkan minyak setengah botol.” Hari berikutnya, giliran si bungsu yang diminta sang ibu untuk membeli minyak. Kejadian yang sama juga dialami oleh si bungsu. Dalam perjalanan pulang, si bungsu juga terjatuh dan minyak yang dibawanya tumpah separuh. Tetapi ia berkata kepada ibunya, “Bu, tadi saya jatuh. Minyaknya tumpah, tetapi saya berhasil menyelamatkan separuhnya.” Kejadiannya sama, tetapi ada satu hal yang membedakan, yaitu cara pandang. Hal itu pulalah yang mengubahkan kehidupan Yeremia ketika ia menghadapai pergumulan dirinya dan bangsanya. Ia mengubah cara pandangnya sehingga ia kembali bisa berharap kepada Tuhan.

Pemahaman

  • Ayat 22-23    : Cara pandang seperti apa yang membuat Yeremia dapat kembali berharap kepada Allah?
  • Ayat 24-33    : Bagaimana cara Yeremia mengungkapkan kebaikan Allah di dalam hidupnya?

Awalnya, Yeremia hanya mengingat masalah dan penderitaan yang dialaminya “Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.” Ay. 20. Ia hanya berfokus kepada masalah yang ia hadapi. Namun sekarang ia mengubah cara pandangnya, ia tidak berfokus kepada masalah, tetapi berfokus kepada Tuhan. Kuncinya adalah berfokus kepada Tuhan. Hal inilah yang bisa membuat ia dapat kembali berharap. Fokus pada kasih, kebaikan, penyertaan dan pemeliharaan Tuhan.

Bagi Yeremia, kebaikan Allah tidak pernah berhenti dalam hidupnya (Ay. 22-23). Yeremia menggunakan tiga kata yang maknanya sangat berdekatan (LAI: “Kasih setia, rahmat dan kesetiaan”). Semua kata ini merujuk pada kebaikan Allah, walaupun aspek yang ditekankan berbeda-beda. Kata khesed (LAI: TB “kasih setia”) biasanya digunakan untuk kesetiaan Allah atas perjanjian-Nya. Ini adalah kasih dalam konteks perjanjian. Kata “rahmat” (rahamim) dapat diidentikkan dengan belas kasihan atas orang berdosa atau orang yang menderita. Kata “kesetiaan” (emunah) lebih mengarah pada kepastian atau keteguhan dalam melakukan sesuatu. Makna dibalik kata emunah cenderung lebih luas daripada kata khesed. Melalui penggunaan tiga kata ini, Yeremia hendak menegaskan keutamaan tentang kebaikan Allah. Kebaikan Allah itu bukan hanya terus-menerus ada, tetapi selalu baru setiap pagi (Ay. 23). Kesadaran tentang kebaikan ilahi ini akan menjadi penghiburan yang teguh, bahkan tatkala dunia ini seakan luruh dan runtuh. Tidak untuk selama-lamanya Allah mengucilkan umat-Nya (Ay. 31)

Refleksi
Renungkanlah: Hidup memang kadangkala sukar. Namun, kasih sayang TUHAN tidak pernah habis. Karena itu, bertahanlah dengan tenang dan aman. Ia memastikan bahwa pengharapan kita tidak akan hilang.

Tekadku
Ya Tuhan, tolong saya agar bisa berfokus dan berharap hanya kepada-Mu untuk menghadapi masalah dan pergumulan yang datang silih berganti. Saya percaya kebaikan, kasih setia, rahmat dan kesetiaan-Mu selalu baru dan tidak akan pernah habis dalam hidup saya.

Tindakanku
Pergumulan apakah yang pernah anda hadapi dan yang sekarang sedang anda hadapi? Coba buat daftar pertolongan Tuhan yang pernah anda alami ketika anda sedang mengalami pergumulan. Fokus pada pertolongan dan kebaikan Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»