suplemenGKI.com

Selasa, 26 Juni 2012

25/06/2012

Ratapan 3:22-38

 

“Tak Selamanya Dikucilkan”

 

Kesalahan, pelanggaran, pemberontakan, dan aib adalah hal-hal yang bisa memicu seseorang untuk dimusuhi,dijauhi bahkan dikucilkan, entah oleh lingkungan keluarga ataupun masyarakat.  Dari renungan kemarin, kita menangkap bahwa sepertinya TUHAN ALLAHpun bersikap demikian kepada umatNya sendiri. Namun apakah benar bahwa ALLAH bertindak sedemikian keras sehingga anak-anakNya akan terus dikucilkan saat melakukan pelanggaran yang mendatangkan murkaNya? Mari kita cermati kitab Ratapan 3:22-3.8

  • Atas dasar apa Yeremia yakin bahwa TUHAN bukanlah ALLAH yang terus mengucilkan? (ayat 22-23)
  • Sikap apakah yang diajarkan Yeremia untuk memperoleh belaskasihan dan pertolonganNya? (ayat 24-31)
  • Karakter ALLAH seperti apakah yang sedang dikomunikasikan nabi Yeremia dalam ayat 32-38?

 

 Renungan

Sebagai seorang nabi, Yeremia paham betul betapa murkanya ALLAH melihat dosa dan pemberontakan bangsa Israel. Namun, Yeremia juga sangat mengenal siapa ALLAH. Itu sebabnya dia yakin bahwa ALLAH Israel adalah ALLAH yang tak mungkin terus menerus murka dan mengucilkan anak-anakNya. Keyakinan Yeremia ini bukanlah keyakinan yang tak berdasar. Di ayat 22-23 Yeremia mengungkapkan imannya dengan lantang bahwa kasih setia TUHAN itu tak pernah berkesudahan, baik di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. DIA juga selalu menyatakan rahmatNya setiap hari dalam berbagai bentuk berkat yang tercurah. Dari pengakuan Yeremia ini terkandung pengenalan yang benar kepada ALLAH yang menghantar Yeremia untuk yakin bahwa ALLAH adalah ALLAH yang tetap mau peduli bahkan di saat anak-anakNya telah melakukan pelanggaran yang sangat menyakitiNya.

Tentu cara pandang Yeremia terhadap ALLAH yang mau mengampuni ini menjadi penghiburan besar bagi umatNya yang telah melakukan pemberontakan. Namun, rupanya Yeremia juga tak ingin kemurahan ALLAH ini dipandang murahan. Itu sebabnya di ayat 24-31 Yeremia mengajar seluruh umat untuk bersikap dengan benar saat berharap untuk mendapatkan belaskasihan dan pertolongan ALLAH. Sikap yang benar itu meliputi sikap hati yang sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada TUHAN dan menjadikan setiap kehendakNya sebagai ‘bagian” hidup (ay.24-25). Lebih lanjut, Yeremia juga menekankan pentingnya sikap berserah secara total kepada ALLAH (ay. 26,28,30) serta hidup dalam pertobatan yang tulus (ay. 27,29).

Dan ALLAH yang menjadi tumpuan untuk berserah itu memang adalah ALLAH yang dapat diandalkan. Hal ini terlihat jelas dari uraian Yeremia dalam ayat 31-38. DIAlah ALLAH yang menyediakan kasih sayang yang tak pernah menjadi defisit. DIA yang sangat berdaulat atas seluruh alam semesta ini namun begitu arif dalam perbuatanNya. DIA bukan ALLAH yang suka bertindak semena-mena kepada umat yang telah mendukakanNya. Sebaliknya, tanganNya senantiasa terentang untuk menerima penyerahan serta pertobatan orang-orang yang dikasihiNya. DIA begitu merisaukan anak-anakNya, sehingga kapanpun DIA siap untuk memberikan pertolongan sebagai bentuk kasih setiaNya.

Itulah gambaran karakter ALLAH kita yang bertindak tegas atas dosa, namun tak pernah menutup pintu bagi anak-anakNya yang sudah jatuh dalam dosa. Untuk sikap ALLAH yang sedemikian arif dan bijaksana ini, akankah kita tidak menghargaiNya? Masih tegakah kita berkubang dalam dosa pemberontakan dan tidak bersegera datang kepadaNya dalam pertobatan agar kita dipulihkan?

 

“Meski besar pemberontakan kita, DIA tak akan mengucilkan asal kita mau hidup dalam pertobatan”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»