suplemenGKI.com

Selasa, 26 Juli 2011

25/07/2011

Pujian Sejati

Mazmur 145:1-7

Puji-pujian bukanlah hal yang asing bagi orang Kristen. Ada begitu banyak lagu-lagu Kristen yang diciptakan dari masa ke masa. Belajar dari apa yang ditulis raja Daud dalam Mazmur 145:1-7, pada hari ini kita akan merenungkan tentang memuji Tuhan itu.

- Bila ada orang yang mengatakan bahwa memuji Tuhan itu berarti  memberitakan, membicarakan, menyanyikan, memaklumkan, menceritakan dan memasyurkan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang mulia, agung, semarak, ajaib, kuat, dahsyat, baik dan adil, apakah Saudara setuju? Mengapa demikian? Coba jelaskan.

- Pernahkah Saudara merasakan kebesaran Tuhan dalam kehidupan Saudara? Pernahkah Saudara menceritakan hal itu kepada orang lain? 

Renungan

Sebagaimana dikatakan oleh Penulisnya, Mazmur 145 adalah mazmur pujian. Tujuan dari mazmur ini juga dijelaskan secara gamblang oleh Daud dalam ayatnya yang pertama ini, yaitu hendak mengagungkan dan memuji nama Tuhan. Kata “mengagungkan” di sini secara hurufiah berarti memberikan ketinggian (kepada). Dengan demikian, mengagungkan itu berarti menempatkan Allah pada posisi yang tinggi.

Tekad Pemazmur untuk memuji Tuhan itu bukanlah sekadar sekali-sekali saja, juga bukan satu dua hari saja, melainkan setiap hari, bahkan untuk seterusnya dan selamanya. Pemazmur juga memberikan penegasan pujian itu dengan menggunakan kata, “memuliakan”. Kata kerja “memuliakan” adalah sama seperti dalam teriakan sukacita, Haleluya! Jadi ini merujuk pada pujian lisan yang penuh kegembiraan

Dalam ayatnya yang ketiga, Pemazmur memberikan alasan mengapa ia ingin memuji Tuhan, yaitu kebesaran Tuhan. Kadang, kita merasa kesal bila berjumpa dengan hal yang tidak dapat kita salami atau pahami. Namun di sini Pemazmur memakai ketidakpahaman itu sebagai suatu hal yang positif, bahkan dijadikan alasan mengapa ia memuji Tuhan. Sebab bagi Pemazmur justru ketika kita tidak dapat memahami karya dan kehendak Allah itulah bukti kebesaran Tuhan, sehingga patut untuk dipuji setinggi-tingginya (bnd. Ayub 5:9; 9:10; 11:7; 36:26; Yes. 40:28). Memang demikianlah sikap yang seharusnya, ketidak-pahaman kita akan jalan hidup yang berliku ini tidak membuat kita marah dan kecewa kepada Allah, melainkan mendorong kita untuk memuji Tuhan.

Pemahaman yang benar akan keagungan Tuhan bukan hanya mendorong Pemazmur untuk memuji Tuhan, tetapi juga mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Pemazmur berharap agar angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan Allah. Bukankah memuji Tuhan itu memang seharusnya tidak kita batasi dengan menyanyikan berulang kali tentang lagu-lagu gereja, tetapi juga dalam hal menceritakan kebesaran Allah kepada generasi demi generasi? Dengan demikian setiap generasi akan mengagungkan Tuhan

Dalam membicarakan keagungan Tuhan, Pemazmur juga mengemukakan betapa besarnya kebajikan-Nya, yaitu kebaikan hati-Nya (BIS), atau kemurahan hati-Nya (TL). Hal inilah yang mendorong Pemazmur memuliakan Tuhan. Apakah kemurahan hati Allah itu juga Saudara rasakan? Lalu, apakah Saudara juga terdorong untuk mengagungkan Tuhan di setiap hari sepanjang hidup Saudara?

 =====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»