suplemenGKI.com

MEMBAGI  DAMAI

Yesaya 62:1-5 

 

PENGANTAR
Apa pendapat saudara atas ungkapan yang mengatakan “Sikap berbagi tidak didasarkan pada kemampuan, tetapi kemauan”.  Apa alasan saudara berpendapat demikian?  Mari kita temukan penjelasannya melalui bacaan hari ini, khususnya dari sikap Yesaya.   

PEMAHAMAN

  • Ayat 1a           : Mengapa Yesaya “tidak dapat berdiam diri” dan “tidak akan tinggal tenang”?
  • Ayat 1b           : Sampai kapan Yesaya berada dalam keadaan seperti itu?
  • Ayat 2-5          : Apa yang Yesaya yakini tentang masa depan Israel?
  • Apakah saudara mempunyai kebiasaan memberi/berbagi kepada sesama? Apa alasannya?

Kata “kemampuan” menunjuk pada kesanggupan melakukan sesuatu, tapi belum sampai taraf bersedia melakukan.  Sebaliknya, “kemauan” bertitik tolak pada sikap nyata, seberapapun potensi yang dimiliki.  Fokusnya adalah bersedia membagi meski di tengah persoalan.  Kebenaran inilah yang menjadi gambaran sikap Yesaya di tengah kehidupan bangsanya.  Banyak orang Israel yang masih mengenang romatisme masa lalu  bangsanya.  Penyesalan yang mereka rasakan seolah menutup fakta bahwa masih ada harapan bagi Israel.   Wajar  bila kemudian mereka tidak bersikap membagi  pengharapan itu. Sebaliknya, Yesaya justru “tidak dapat berdiam diri” dan “tidak tinggal tenang, sampai kebenaran bersinar seperti cahaya” (ay.1).  Damai dan sukacita yang Yesaya alami, mendorongnya untuk terus membagi dan meneguhkan bangsanya. Yesaya memegang janji Allah bahwa “bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu” (ay.2).  Kebenaran janji Allah ini menjadi landasan damai Yesaya di tengah panggilan hidup bagi bangsanya yang sedang di ambang kehancuran.

Tidak mudah menjalani hidup dengan kebesaran hati seperti Yesaya.  Umumnya, pergumulan hidup menjadi alasan untuk berhenti, mundur atau lari dari kenyataan.  Bagaimana bisa membagi damai, bila hati sendiri justru butuh didamaikan.  Alih-alih bermaksud menghibur, malah justru ingin dihibur.  Yesaya juga bukan pribadi yang kuat, yang seolah selalu mampu tegar menghadapi persoalan.  Ada masa di mana Yesaya seolah merasa tidak berpengharapan, namun kemudian bangkit dan terus meyakini pertolongan Allah dalam hidup diri dan bangsanya.  Artinya, sikap hidup yang membagi damai tidak terjadi begitu saja.  Harus ada kesediaan  lebih dulu menerima, meyakini dan mengalami damai Allah secara pribadi.  Pengalaman didamaikan Allah, seharusnya mendorong kita berani menceritakan keselamatan Allah yang mendamaikan manusia.  Kehidupan sulit akan lebih mudah dijalani dengan hadirnya pribadi-pribadi yang mau membagi damai sehingga melegakan kehidupan.  Mari kita mau membagi damai Allah kepada sesama.

REFLEKSI
Mari kita renungkan: sudahkah kita hidup damai dengan-Nya?  Sudahkah kita memiliki pengalaman diperdamaikan sehingga kita bisa membagi damai Kristus kepada sesama?

TEKADKU
Tuhan Yesus mampukan aku mengalami damai-Mu dan membagikannya kepada sesama, sesulit apapun keadaanku.

TINDAKANKU
Aku mau belajar membagikan damai kepada sesama melalui perkataan dan sikapku, tidak menunggu segala sesuatu dalam hidupku berjalan baik.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«