suplemenGKI.com

Selasa, 25 Mei 2010

24/05/2010

Amsal 8: 22-36

ALLAH DAN HIKMATNYA

Secara konteks, kitab Amsal yang bertemasentralkan hikmat  merupakan kitab yang menjadi sumber pengajaran yang ditujukan kepada keluarga kerajaan, atau keturunan para bangsawan.  Tujuannya jelas agar setiap tindakan yang diambil hendaknya berdasarkan pertimbangan yang mendatangkan kesejahteraan, baik bagi diri maupun orang lain.   Namun rangkaian ayat pada bagian ini juga menjelaskan Allah adalah pribadi yang juga mempunyai pertimbangan.  Dibalik karya Allah atas alam semesta selalu ada pertimbangan atau hikmatNya yang mendatangkan kebaikan.  Hikmat dan tindakanN adalah dua hal yang satu dan tidak terpisahkan.

  • Apa yang dimaksud dengan “aku” pada bagian ini?  (ay.22)
  • Dan seberapa dekat hubungan si  “aku” dengan Allah?  (ay.30)
  • Kapan si “aku” ada dalam karya Allah?  (ay.22)
  • Adakah ‘peran’ si “aku” dalam karya Allah, termasuk diri manusia? (ay.26, 28, 29, 31)

RENUNGAN

Allahku sayang Allahku malang, ya! memang seperti judul salah satu cerita nyata berseri di sebuah majalah wanita ternama beberapa tahun lalu.  Bahkan boleh dibilang ide ceritanya sama.  Ketika berkat, kesembuhan dan kesuksesan menjadi bagian hidup, Allahpun disayang.  Tapi giliran kesulitan, sakit dan penderitaan tak kunjung usai, Allah ditinggalkan, alias diabaikan.  Allah dituduh  ada dibalik keadaan sulit yang terjadi.  Benarkah Allah ada dibalik kesulitan hidup manusia?

Rangkain ayat yang kita baca menegaskan bahwa dibalik karya Allah atas alam semesta dan hidup manusia, selalu ada hikmatNya yang bertujuan mendatangkan kebaikan bagi hidup.    Frasa “membuat bumi dengan padang-padangnya” (ay.26), “menggaris kaki langit pada permukaan air samudra daya” (ay.27), “menetapkan awan-awan di atas” (ay.28), “menentukan batas kepada laut” (ay.29), menunjukkan bahwa keteraturan alam semesta merupakan bagian dari rencana Allah (ay.29b).

Alam semesta ibarat kanvas raksasa dimana di dalamnya terlukis karya Allah yang mengagungkan.  Tidak ada satupun yang kebetulan.  Semua ditata dan ditempatkan dengan rencana. Terlebih lagi manusia yang diciptakan seturut dengan gambarNya menegaskan keagungan diri Allah dan rencanaNya yang mulia. Bagi manusialah Allah melakukan semua kebaikan itu.  Melihat alam semesta dan ciptaan yang ada, sesungguhnya tidak ada manusia yang bisa berdalih bahwa Allah baik adanya.  Itu sebabnya, melalui alam semesta pula Dan manusia dapat mengenalNya, dan dipanggil untuk memelihara hukum-hukumNya sehingga hidupnya berbahagia (ay.34, 35).

Jangan pernah meragukan tindakan Allah.  Jangan pernah menyalahkan Allah.  Sebab hikmatNya sejalan dengan atribut diriNya.  Allah baik adanya, maka karya hikmatNya memberikan kebaikan bagi keseluruhan ciptaan.  Allah suci adanya, maka karya hikmatNya mengajarkan manusia untuk menuntut kesucian dalam hidup.  Kalaupun Allah sejenak mengijinkan keadaan sulit terjadi dalam hidup manusia.  Semuanya tidak lepas dari kedaulatan Allah yang bekerja dengan hikmatNya untuk mendatangkan kebaikan.  Tetapi seringkali tantangan dan tawaran dalam kehidupan seolah lebih menarik daripada kebenaran Allah?  Sehingga beberapa orang percaya menyandarkan hidupnya pada kebaikan versi dunia.

Bagaimana cara supaya bisa bertahan menghadapi hikmat dunia dan tetap mempercayai Allah dalam kebaikan hikmatNya?  Ayat 33, “dengarlah didikan, maka kamu menjadi bijak…” dan “berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku” (ay.32).  Tidak ada cara lain!

Mempercayai Allah dalam kebaikan hikmatNya memberikan hidup

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*