suplemenGKI.com

Selasa, 25 Juli 2017

24/07/2017

MEMILIH HIKMAT

I Raja-raja 3:5-12

 

PENGANTAR
Apa yang dipilih sangat mungkin menunjukkan apa yang terutama dalam hidup seseorang.  Mengapa?  Sebab apa yang utama umumnya menjadi dasar dalam menentukan pilihan.  Demikian juga halnya dengan pengalaman raja Salomo ketika harus memilih hikmat kepada Allah melalui doanya.  Mari kita baca dan pelajari.

PEMAHAMAN

  • Ayat 6-8          :  Hal-hal apa saja yang Salomo pahami tentang Allah dalam hidupnya?
  • Ayat 9             :  Apa yang Salomo minta dan apa alasannya?
  • Ayat 10-12      :  Bagaimana respons Allah atas permintaan Salomo?
  • Apa yang terpenting dalam hidup saudara?

Bacaan hari ini berbeda sudut pandang dengan pembahasan sebelumnya.  Kemarin menyoroti kelemahan Salomo;  sementara hari ini memaparkan permohonannya kepada Tuhan.  Dalam hal apa Salomo layak ditiru?  Kesadaran diri untuk memilih yang terbaik di awal pemerintahannya. Mengapa?  Salomo diperhadapkan pada kebesaran ayahnya, Daud, sementara dia sendiri masih muda dan belum berpengalaman di tengah umat yang besar (ayat 8).   Refleksi tentang diri (bukan panglima perang) dalam hubungannya dengan sejarah dan pergumulan bangsanya, membawa Salomo meminta apa yang terpenting kepada Allah, yaitu hikmat (ayat 9).  Dan Allah mau mempercayakan hikmat dan pengertian (ayat 12) kepada Salomo dalam menjalankan pemerintahan bagi umat-Nya.  Salomo akhirnya mau berproses merefleksi diri sehingga menemukan apa yang terpenting dalam hidup di hadapan Tuhan.  Hal itulah yang patut dikembangkan dalam diri orang percaya sebagai bagian dari mengikuti pola hidup Illahi.

Hikmat bukan barang jadi yang langsung diberikan. Hikmat ada bersama pengalaman dan refleksi diri.  Dengan kata lain,  memilih hikmat menuntut kesediaan diri berproses dalam menerjemahkan pengalaman menjadi makna yang berharga bagi kehidupan.  Makna itulah yang menjadikan seseorang berhikmat.  Makna yang didapat menjadi bekal menghadapi persoalan berikutnya.  Dengan demikian seseorang akan terasah pola pikir dan kepekaan hatinya dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, tanpa refleksi diri, seseorang akan miskin pengertian, sebab pengalaman yang terjadi sekadar menjadi peristiwa tanpa makna.  Tuhan memanggil kita selalu memiliki waktu untuk merefleksi diri sehingga setiap pengalaman menjadi pelajaran yang berharga dalam menjalani hidup kini dan nanti. Itulah hikmat!

REFLEKSI
Mari hening sejenak: memilih hikmat menuntut kesediaan diri kita mau berproses melalui pengalaman dan menemukan makna yang berharga bagi kehidupan.

 

TEKADKU
Tuhan tolonglah aku agar memiliki hikmat-Mu, melalui proses belajar dan refleksi diri bersama pengalaman yang Engkau berikan.

 

TINDAKANKU
Aku mau berproses melalui pengalaman dan refleksi diri bersama-Nya, sehingga memiliki hikmat-Nya dalam menghadapi persoalan yang terjadi, kini dan nanti.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»