suplemenGKI.com

SPIRITUALITAS PANGGILAN

Lukas 2:21-24; 39-41; 51-52

 

PENGANTAR
Ibarat gedung yang kokoh dan tahan lama, pasti bukan hanya memerlukan bahan-bahan yang berkualitas tetapi juga membutuhkan perencanaan dan perlakuan yang sesuai dengan standar.  Demikian juga dengan membangun spritualitas panggilan pada anak sebagaimana pengalaman Yusuf dan Maria.  Mari kita baca dan pelajari!

PEMAHAMAN

  • Ayat 21, 41: Dalam hal apa Yusuf  dan Maria menunjukkan ketaatannya pada Allah? 
  • Ayat 28, 47: Pengalaman menarik apa yang Yusuf dan Maria alami di Yerusalem?
  • Ayat 40, 52: Apa yang Yesus alami setelah dua kali datang ke Yerusalem

Ada dua hal menarik pada perikop ini.  Pertama,  mencatat pertumbuhan Yesus Kristus sebagai anak (ayat 40, 52):   bertambah kuat (fisik), dikasihi Allah (rohani), bertambah hikmat (kognitif) dan dikasihi manusia (afeksi).  Artinya, Yesus bertumbuh secara normal dan berimbang.  Kedua, catatan pertumbuhan Yesus ditempatkan setelah catatan tentang kehidupan ibadah orangtuanya.  Pertumbuhan pertama (ayat 40): setelah Yesus disunat & dibawa kepada TUHAN menurut hukum Taurat (Im12:6-8).  Pertumbuhan kedua (ayat 52): setelah Yesus diajak merayakan paskah di Yerusalem.  Dua pertumbuhan tersebut menegaskan kebenaran bahwa kehidupan ibadah orangtua berdampak pada pertumbuhan spiritualitas anak.

Apa yang Yusuf dan Maria praktikkan sehingga membangun spiritualitas panggilan Yesus sebagai pribadi yang melayani?  Pertama, mereka melakukan tanggung jawabnya sebagai orangtua  di hadapan TUHAN (ayat 21-24).  Mereka memberi nama “Yesus”, menyerahkan Yesus sebagai anak sulung laki-laki milik Allah, membawa kurban setelah masa pentahiran & membawa Yesus ke bait Allah.   Kedua, mereka menyadari pentingnya anak mempunyai spiritualitas.  Dan itu dimulai sejak Yesus masih kecil.  Yusuf dan Maria memberi kesempatan Yesus kecil mengalami pertumbuhan rohani melalui pengalaman beribadah bersama mereka.  Ketiga, Yesus dibesarkan dengan kasih sayang.  Kata “asuhan” (ayat 51) menunjukkan proses perhatian orangtua.  Sikap inilah yang makin memperkuat keteladanan rohani Yusuf dan Maria pada diri Yesus, sekaligus berdampak pada panggilan diri-Nya yang melayani.  Yesus adalah Allah namun ia tetap seorang anak dengan segala kebutuhan-Nya.  Tindakan Yusuf & Maria yang tetap mengasuh (ayat 51) menjadi alat untuk ‘mengarahkan’ hidup dan pelayanan Yesus sesuai dengan kehendak Bapa.

Bagaimana dengan kita?  Menjadi orangtua bukan hanya soal mencukupi kebutuhan fisik; tapi juga harus bersengaja membangun spiritualitas anak.   Keteladanan ibadah orangtua menjadi pengalaman berharga bagi anak dalam menapaki jalan spiritualitasnya dan menumbuhkan kedewasaan karakter serta sikap pelayanan yang menjadi berkat bagi Tuhan dan sesama.  Mari terus mengerjakan tugas dan panggilan kita sebagai orangtua dengan setia. 

REFLEKSI
Mari merenungkan: spiritualitas panggilan dalam diri orangtua merupakan bangunan kokoh dalam diri anak yang akan mendewasakan rohani dan karakternya; sekaligus mempersiapkan anak sebagai generasi yang tangguh dalam kehidupan. 

TEKADKU
TUHAN mampukan aku mensyukuri panggilan sebagai orangtua melalui segala hal baik yang aku lakukan sebagai keteladanan membangun spiritualitas bagi anak-anak yang Tuhan titipkan.

TINDAKANKU
Mulai akhir tahun ini aku mau mengutamakan ibadah bersama keluarga dalam kesetiaan, sehingga pengalaman beribadah itu menjadi pondasi yang kokoh dalam diri anak-anak dalam membangun spritualitas dan kedewasaan karakternya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«