suplemenGKI.com

Yesaya 28:14-22

 

“JANGAN BERHARAP KEPADA SESUATU SEMU”

Pengantar:
            Konon ada cerita, di sebuah desa ada seorang yang sangat berpengaruh karena dia seorang yang berkedudukan dan kaya-raya. Hampir seluruh penduduk desa yang rata-rata adalah rakyat biasa itu menjadi sangat bergantung kepada si penguasa tersebut. Seolah-olah yang menentukan nasib hidup mereka adalah si penguasa tersebut. Namun seiring berjalannya waktu si penguasa itu pun jatuh, kedudukannya hancur dan kekayaannya semakin lama semakin habis. Kejatuhan si penguasa itu rupanya berimbas pada penduduk desa tersebut, mereka juga menjadi kehilangan tempat bergantung dan berharap. Mungkin ini hanya sebuah cerita, namun bisa menjadi pelajaran berharga, betapa kelirunya jika kita bergantung pada pihak yang tidak tepat. Bacaan hari ini berbicara tentang Israel mengadakan ikatan perjanjian dengan pihak-pihak yang tidak bisa menolong dan menjamin hidup mereka .

Pemahaman:

  1. Siapakah yang dimaksud sebagai orang-orang yang memerintah rakyat di Yerusalem? Dan siapakah pihak yang dimaksud dengan: maut, bohong dan dusta yang kepadanya umat telah mengikat perjanjian? (v. 14-15, 18)
  2. Apakah yang hendak ditunjukan dan diajarkan kepada umat Israel melalui ayat 16-22?

Yesaya 28:14-22 ini merupakan pernyataan Allah kepada para pemimpin Israel khususnya di Yerusalem yang tidak bisa memimpin umat-Nya dengan kebenaran dan keadilan. Gambaran ketidak benaran mereka diumpamakan seperti orang yang sedang pening kepalanya karena anggur dan arak. Mereka adalah para imam dan para nabi yang tidak bisa menjadi panutan dan teladan bagi umat Tuhan (v. 7-8). Dalam keadaan demikian mereka bukannya bertobat, tetapi justru mengikat perjanjian dengan: maut, bohong dan dusta. Maut, bohong dan dusta adalah metafora atau bahasa kiasan untuk bangsa Mesir dan Firaun yang mereka anggap dapat menolong mereka dari bangsa Asyur (Yes 30:1-5)

Dengan mengikat perjanjian dengan Mesir berarti mereka meninggalkan Tuhan. Nabi Yesaya memperingatkan mereka, bahwa menaruh harapan kepada Mesir itu adalah sebuah kebohongan atau menipu diri sendiri, karena Mesir tidak akan dapat meluputkan mereka dari musuh (v. 18-20). Jika Israel tidak bertobat dan berbalik kepada Allah, maka Allah akan menghukum mereka dengan penderitaan yang lebih dahsyat lagi (v. 21-22). Bagaimana dengan kita, kepada siapa kita berharap ketika kesulitan datang menimpa kita? 

Refleksi:
Mari merenung sejenak. Ketika kita diperhadapkan dengan keadaan hidup yang sulit, janganlah kita menaruh pengharapan kita pada siapapun juga, melainkan tetaplah berharap hanya kepada Tuhan Yesus sebab Dialah yang pasti sanggup menolong kita.

Tekadku:
Tuhan Yesus kuatkan kami, supaya apapun kesulitan yang kami hadapi, kami tidak akan berpaling dari Engkau, melainkan tetap menjadikan Engkau sumber pengharapan kami.

Tindakanku:
Mulai saat ini, apapun kesulitan dan pergumulan hidup saya, saya hanya mau mengandalkan Tuhan Yesus saja untuk menjadi menolong hidup saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«