suplemenGKI.com

Marah, kecewa, sedih, frustrasi, benci dan merasa berdosa. Itulah yang biasa terjadi atau dirasakan oleh seseorang jika diperlakukan dengan tidak hormat, tidak adil dan tidak sepantasnya oleh orang lain entah itu musuhnya, sahabatnya atau rekan-nya. Mazmur 25 ini mengisahkan betapa beratnya pergumulan yang dialami oleh seorang Daud. Dari ungkapan-ungkapan doanya terlihat jelas betapa beratnya beban pergumulan yang dialaminya. Sebenarnya apa yang dialami oleh Daud ini ada yang melatarbelakanginya. Kisah ini terjadi adalah dengan latar belakang Daud dipermalukan, dihina dan dikudeta kepemimpinannya oleh orang yang sangat dekat dengannya, yaitu anaknya sendiri yang bernama Absalom. Absalom berusaha untuk menggulingkan ayahnya sendiri sebagai raja dan akan mengambil alih kepemimpinan sebagai raja dengan cara yang sangat tidak pantas. Absalom melakukan tindakkan amoral terhadap ayahnya sendiri dengan menyetubuhi gundik-gundik ayahnya sendiri di depan sotoh rumah di depan mata seluruh bangsa Israel (2Sam 16:22) betapa memalukan dan menyakitkan bagi Daud peristiwa itu.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

1.      Ayat. 1-3. Apa yang menjadi tindakkan pertama yang dilakukan Daud ketika ia menghadapi pergumulan yang sangat berat?

2.      Ayat.4-5. Sikap apa saja yang mau ditonjolkan oleh Daud melalui tindakkannya yang dicatat dalam ayat-ayat tersebut?

 

Renungan:

Di tengah kepedihan hatinya, di tengah merasa berdosa dan ditengah penghinaan yang luar biasa yang dialaminya Daud berdoa “Kepada-Mu ya Tuhan kuangkat jiwaku” pemahaman ini menunjukkan bahwa ketika dia bergumul sangat berat Daud semakin belajar memberikan hidupnya yang terbaik dan yang inti kepada Tuhannya. Jiwa adalah bagian paling inti dan bernilai di dalam hidup manusia, karena jiwa itu satu-satunya milik Allah yang kembali kepada Allah ketika manusia itu mati (jasadnya bisa busuk tetapi jiwanya kembali kepada pemiliknya) Kuangkat jiwaku adalah berbicara tentang Daud mau mempersembahkan inti hidupnya kepada Tuhan. Mempersembahkan hidup yang terbaik adalah berhubungan dengan bagaimana dia tetap melayani Tuhan, menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan Tuhan dengan hidupnya justru ketika dia mengalami pergumulan yang begitu besar. Itu semua menunjukkan bahwa ia memiliki iman yang tidak terpengaruh oleh apapun keadaan yang terjadi dan dialaminya. Itu sebabnya ia katakana “Kepada-Mu aku percaya” Dia yakin semua yang bersifat fana, tahtanya, kerajaannya, harga dirinya dan semua miliknya termasuk gundik-gundiknya itu semua bisa saja hilang. Tetapi jangan sampai ia mengorbankan imannya kepada Allah.

Ayat. 3 “Menantikan Engkau” berbicara tentang betapa Daud sangat mengutamakan hubungan, relasi dan keintiman dengan Tuhan itu adalah hal yang mutlak dan tidak boleh berkurang sedikitpun sekalipun dalam kondisi bergumul berat.

Hal yang lebih indah lagi adalah Daud ini, mau belajar dari kegagalan, persoalan dan masalah yang dialaminya. Mau belajar dari Tuhan yang pasti sanggup menunjukkan jalan yang benar baginya dan. Daud tidak terpengeruh untuk meminta nasihat, masukan atau petunjuk dari orang-orang di sekitarnya (mungki itu ahli nujum, ahli ramal atau orang pintar) Dia hanya mau belajar dari Tuhan dan meminta Tuhan menunjukkan jalan baginya. Ini sikap rendah hati dan mengandalkan Tuhan. Pada jaman pemerintahannya tentu banyak penasihat kerajaan, tentu ada banyak raja-raja sebagai koleganya dan tentu banyak tentaranya yang siap mendukungnya untuk berperang melawan Absalom, tapi untuk apa? Yang paling penting bagi Daud adalah belajar dan mengikut serta percaya kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya itulah iman.

Bagaimana dengan kita ketika kita berada dalam pergumulan berat, ketika kita dimusuhi, dihina dan diperlakukan tidak sepantasnya apakah kita tetap melayani Tuhan dengan baik, apakah kita tetap mau mempersembahkan hidup kita yang terbaik bagi Tuhan dan apakah kita tetap rendah hati untuk selalu mencari Tuhan, menantikan Tuhan serta belajar dari pada Tuhan? Kemenangan ada dipihak kita ketika kita tetap mengandalkan Tuhan dalam apapun keadaan kita.

 

Jangan membuka suara terlalu keras kepada sekelilingmu ketika hatimu mengalami kesesakan, karena suaramu akan terdengar parau dan menjadi bahan tertawaan bagi sekelilingmu, tetapi berteriaklah kepada Tuhan karena Dia akan menikmati suaramu walaupun kedengarannya parau.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

2 Comments for this entry

  • ambar says:

    Terimakasih Pak untuk renungannya.Yesus Kristus memberkati selalu

  • Ramson Damanik says:

    Wah bagus sekali renungannya Pak, terimakasih.
    Bagaimana saya mau mengcopy kata-2 nya ya.
    Saya terinspirasi menyampaikan nya ke Jemaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*