Peristiwa air bah dan perjanjian yang Allah buat setelah itu bukan hanya berlaku pada konteks zaman waktu itu, sebab Alkitab Perjanjian Baru di beberapa bagian membicarakannya kembali, seperti yang tertulis di Ibr. 11:7; 2 Pet. 2:5;  1 Pet. 3:20. Hari ini kita akan melihat bagaimana peristiwa ini menjadi penting bagi kita di zaman sekarang, dengan cara membandingkan dengan catatan PB.

  1. Bacalah 2 Petrus 2: 9b-10, hubungkan antara tindakan Allah mendatangkan air bah di Perjanjian Lama dalam kaitannya dengan apa yang akan Allah lakukan di hari penghakiman akhir! Kesimpulan apa yang Anda dapatkan tentang Allah?
  2. Bacalah 2 Petrus 2: 5, 9a, hubungkan dengan apa yang Allah lakukan pada Nuh di bacaan Kejadian hari ini.  Apa yang Allah janjikan (sanggup Allah lakukan) terhadap orang-orang yang benar/saleh?
  3. Kejadian 9: 16: Bagaimana sifat perjanjian yang Allah buat, kekal atau hanya sementara? Mengapa Nuh terpilih menjadi saksi perjanjian Allah pada waktu itu?
  4. Apa yang bisa Anda teladani dari Nuh setelah merenungkan bagaimana ia menjadi orang terpilih untuk menjadi saksi perjanjian Allah?

 

Renungan

Hukuman air bah sedikitnya menunjukkan kepada kita 3 hal yaitu:

a) Allah sangat membenci dosa.  Kehancuran dan murka yang sama juga akan Allah tunjukkan pada hari penghakiman. 2 Pet 2:10 menyebut hukuman Allah ini perlu diwaspadai oleh mereka yang menghina pemerintahan Allah.  Mengikuti hawa nafsu adalah tindakan praktis yang lahir dari orang-orang yang tidak mau dipimpin Allah, melainkan hanya mengikuti kemauannya sendiri.  Peristiwa air bah mengajak kita tidak menyepelekan murka Allah, dan itu berarti tidak menyepelekan gejala-gejala yang menandakan hawa nafsu mulai menjadi tuan atas hidup kita. Baik itu hawa nafsu yang terkait dengan seksualitas, materialisme, maupun isme-isme lain.

b) Allah dan keselamatanNya ada di pihak orang benar. Kita terhibur dan bersukacita karena memiliki Allah yang tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan petaka (2 Petrus 2:9).  Walau Nuh minoritas orang benar pada zaman itu, Allah tetap memperhitungkan Nuh di hadapanNya untuk beroleh keselamatan. Walau untuk melihat keselamatan itu Nuh harus dicemooh, ditentang sana sini, tetapi Nuh bertahan. Karena itu peristiwa ini membuat kita harus terus berjuang dalam menjaga kesalehan hidup dan tidak perlu takut dengan tekanan apa pun sebab Allah selalu ada di pihak orang-orang yang hidup takut akan Dia.

c) Allah sanggup memakai ‘orang kecil’ untuk menggenapkan rencana besarNya. Melalui Nuh yang hanya minoritas, Allah kembali menegakkan perjanjianNya untuk menggenapkan rencana Allah selanjutnya atas hidup manusia dengan perjanjian yang bersifat kekal. Mari berjuang untuk menjadi orang-orang yang dipakai Allah melalui kesalehan hidup kita, walau kita hanya sendirian, walau kita bukan siapa-siapa bagi orang lain, tetapi bagi Allah, kita dapat menjadi orang yang ‘dicari Allah’, diperhitungkan oleh Allah untuk menjadi mitraNya.   

 

Jika kita yakin Allah membenci dan menghukum dosa, itu berarti kita juga yakin Ia mengasihi dan menyelamatkan yang benar.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*