suplemenGKI.com

MERESPONI PANGGILAN

Kejadian 17:1-3

 

PENGANTAR
Makna “panggilan” sebagai pengalaman spiritual merupakan pengalaman pribadi yang membutuhkan kepekaan mendengar dan memberi respons yang tepat atas panggilan itu.  Respons kita atas panggilan Allah bisa terlihat dari sikap diri kita di hadapan-Nya.  Apakah sikap diri kita menunjukkan rasa hormat dan tunduk kepada kehendak-Nya?  Bacaan hari ini menolong kita untuk melihat kesepadanan sikap hati dengan sikap tubuh sebagai bentuk respons kita menanggapi panggilan Tuhan.  Mari belajar dan merenungkan!

PEMAHAMAN

  • Apa yang Allah firmankan kepada Abraham? (ayat 1-2)
  • Bagaimana respons Abraham menanggapi firman-Nya?  (ayat 3)
  • Bagaimana sikap hati dan tubuh kita dalam menanggapi panggilan-Nya? 

Bahasa tubuh merupakan alat komunikasi yang dipergunakan manusia bahkan sebelum mengenal bahasa lisan dan tulis secara sempurna.  Bahasa tubuh atau gestur juga merupakan gerakan tubuh yang terjadi secara spontan dan merupakan hasil olah alam bawah sadar dalam upayanya mengekspresikan perasaan dan keinginan tersembunyi di dalam hati.  Misalnya, orang yang pemarah, bisa jadi gesturnya juga tampak sebagai pemarah.  Sebaliknya orang yang hatinya penuh syukur, gesturnya pun akan menunjukkan wujud syukur itu.

Kebenaran inilah yang juga dicerminkan melalui sikap tubuh Abraham.  Setelah Allah menyatakan diri akan mengadakan perjanjian dengan dirinya, “lalu sujudlah” Abraham (ayat 3).  Kata “sujud” bermakna fisik sama dengan “menyembah”, yaitu duduk membungkuk sampai dahi menempel ke tanah (bow down).  Sikap tubuh semacam ini menunjukkan rasa hormat, ketundukkan, kepasrahan, rasa syukur, keyakinan penuh dan sekaligus rasa ketidaklayakkan diri di hadapan Pribadi yang begitu Agung.  Abraham merasa bukan siapa-siapa, namun masih dipercaya mengemban tugas besar menerima ikatan perjanjian Allah sebagai bapa orang percaya (ayat 4).  Sikap hati Abraham yang meresponi panggilan Allah, sepadan dengan sikap tubuhnya yang tunduk dan berserah kepada Allah.  Meskipun secara usia, Abraham tidak lagi muda, namun sikap hati mendorongnya untuk memberikan sikap terbaik bagi Allah.  Abraham menunjukkan rasa hormatnya kepada Allah.  Hati dan sikap tubuh yang total dipakai bagi pekerjaan Allah.

Bagaimana dengan kita, apakah sikap tubuh kita menunjukkan rasa hormat selaras dengan sikap hati yang melayani Allah?  Keselarasan keduanya diperlukan sebagai wujud kesungguhan respons atas panggilan Allah. Sepanjang kita mengaku sebagai pengikut Yesus, maka setiap kita diundang untuk selalu membangun sikap hati yang benar; dan kemudian menyelaraskannya dengan sikap tubuh dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari.  

REFLEKSI
Mari kita merenungkan: sudahkah kita memberikan sikap tubuh yang selaras dengan respons hati kita atas panggilan Allah?  Sudahkah sikap tubuh kita menunjukkan rasa hormat kepada-Nya? Setiap kita dipanggil menyelaraskan sikap hati yang hormat kepada Allah dengan sikap tubuh yang mewujudkan rasa hormat itu dalam kehidupan sehari-hari. 

TEKADKU
Ya Tuhan tolonglah aku untuk mengevaluasi sikap hati dan sikap tubuhku, agar keduanya benar-benar menunjukkan respons yang tepat atas panggilan-Mu dalam hidupku.  

TINDAKANKU
Di masa Pra Paskah, dalam Minggu ini, aku mau:

  • Mewujudkan rasa hormatku kepada Tuhan dengan memberi sikap tubuh yang baik saat datang beribadah kepada-Nya
  • Mengajak anggota keluargaku saling menghormati, dengan cara saling membantu sebagai langkah meresponi panggilan Allah dalam kehidupan sehari-hari.  Sikap seperti itulah yang akan aku lakukan di tempat kerja, dalam pelayanan dan kepada tetangga.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«