suplemenGKI.com

Yeremia 15: 18-21 (lanjutan)

YEREMIA : BERGUMUL DENGAN DERITA DAN PERTOLONGAN ALLAH

PERTANYAAN PENUNTUN PEMAHAMAN ALKITAB

1. Perhatikan kalimat-kalimat kesuh kesah nabi Yeremia di ayat 18. Apa yang sekiranya sedang dirasakan Yeremia? Apa yang ia pikirkan tentang Allah pada saat itu?

2. Pernahkah Anda juga merasakan dan berpikir demikian tentang Allah pada saat Anda sedang dihadapkan pada persoalan?

3. Ayat 20-21 : Apa yang Tuhan katakan untuk menjawab keluh kesah nabi Yeremia?

4. Apa yang menjadi berita penghiburan bagi Anda melalui saat teduh hari ini?

RENUNGAN

Dalam pergumulannya menghadapi tekanan dalam tugas kenabiannya, Yeremia bukan hanya berkeluh kesah kepada Allah, tetapi ia juga sempat merasa bahwa Allah berlaku tidak adil tehadapnya. Pikiran dan perasaan demikian muncul karena Yeremia merasa sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik, namun pada kenyataannya ia tetap ditentang dan dilawan oleh orang-orang yang tidak mau menghormati Allah. Yeremia menuduh Allah berlaku curang dan tidak bisa dipercayai lagi olehnya. Sungguh suatu pengakuan yang lahir dari orang yang benar-benar sedang tertekan jiwanya dan putus asa, pengakuan yang jujur di hadapan Allah atas apa yang bergejolak dalam hati dan pikirannya.

Namun pengakuan yang jujur ini tidak tepat di hadapan Allah. Prasangka dan tuduhan yang diberikan Yeremia kepada Allah terbukti tidak benar. Sebab Allah menjawab dengan memberikan janjiNya bahwa Tuhan akan menyertai, menyelamatkan dan melepaskan Yeremia dari orang-orang jahat, orang lalim. Bukan hanya itu, Tuhan pun menyampaikan maksudNya bahwa dengan semua yang Yeremia alami, tidak berarti Tuhan curang dan meninggalkan dia, melainkan Tuhan akan membuat Yeremia seperti tembok berkubu, yang diserang orang tetapi tidak akan pernah dikalahkan. Dengan kata lain, Tuhan sedang membentuk Yeremia menjadi nabi yang kuat, nabi yang tangguh, tidak mudah dikalahkan oleh keadaan maupun orang-orang yang jahat.

Pergumulan Yeremia menjadi cerminan bagi kita sebab mungkin kita juga menyalahkan, menuduh Allah tidak adil dan meninggalkan kita pada saat kita menghadapi kesulitan. Apalagi jika kita merasa benar dan sudah hidup dengan setia di hadapan Tuhan. Saat teduh kita mengingatkan kita bahwa apa yang kerap kita pikirkan tentang Allah belum tentu sama dengan apa yang Allah pikirkan tentang kita. Dan bersyukurnya kita karena pikiran dan rencana Allah itulah yang paling baik dan sempurna untuk kita. Jadi, jika kita sedang menghadapi suatu pergumulan, jangan terburu-buru menilai buruk Allah kita, melainkan kita perlu merendahkan diri dan membiarkan Allah menggenapkan rencanaNya dengan leluasa dalam hidup kita. Melalui kesulitan hidup, Ia membentuk kita menjadi pribadi yang kuat dan makin indah di hadapanNya.

Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta. Bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

~ Bilangan 23:19 ~

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*