suplemenGKI.com

Yeremia 14:7-10

KEDALAMAN SPIRITUALITAS

 

PENGANTAR
Mengatakan atau meyakini sesuatu, tidaklah sama dengan mengalaminya.  Misalnya, tentang Allah.  Apakah setiap orang yang meyakini Allah ada benar-benar telah mengalami secara langsung kehadiranNya?  Jawabannya mungkin akan sangat personal.  Namun intinya, ada sesuatu yang berjarak antara iman dengan kenyataan.  Pergumulan inilah yang sedang Yeremia hadapi, meyakini Allah ada di dalam ketiadaanNya.

PEMAHAMAN

  • Ayat 7-8:  apa yang Yeremia katakan tentang bangsanya?
  • Ayat 7-8:  apa yang Yeremia harapkan dari Allah?
  • Ayat 8-9:  apa yang Yeremia rasakan tentang Allah?

Perikop ini dengan jelas menggambarkan bagaimana Allah membiarkan Israel dalam keadaannya yang tanpa pertolongan (bdk. dg ayat 8, 9).  Bahkan Allah seolah berdiam diri atas kenyataan itu, meskipun Dia tinggal di antara bangsaNya (ayat 9).  Fakta inilah yang mendorong Yeremia seolah mempertanyakan karya Allah di tengah umatNya, “mengapakah Engkau seperti orang asing di negeri ini?” (ayat 8) yang “singgah untuk bermalam.”  Bahkan menurutnya, Allah “seperti orang bingung…seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong?”  Apakah Yeremia tidak yakin bahwa Allah ada?  Atau Yeremia mulai kehilangan kepercayaan?  Justru sebaliknya!  Pertanyaan retoris ini menunjukkan kedalaman spiritualitasnya. Yeremia tetap meyakini Allah ada dan berkarya bagi umatNya, meskipun situasinya tidak mengenakkan. 

Kedalaman spiritualitasnyalah yang memampukan Dia tetap mengaku, “Engkau ada di antara kami…jangan tinggalkan kami” (ayat 9).  Yeremia melihat kasih dan keadilan Allah berlaku di sini.  Allah yang mengasihi adalah Allah yang juga menunjukkan kasihNya dengan cara menghukum ketika umatNya bersalah. Bagi Yeremia, kasih dan keadilah Allah tidaklah bertentangan;  keduanya satu adanya.  Itu sebabnya, Yeremia dengan penuh kesadaran diri mewakili bangsanya dan mengaku “kami telah berdosa kepadaMu” (ayat 7).  Kedalaman spiritualitas adalah keadaan iman yang bertekad menyelami perbuatan tangan Tuhan di balik setiap keadaan, sembari terbuka akan kesalahan diri dan bertekad menjadi lebih baik.  Namun bukan berarti Allah yang bertanggung jawab untuk semua keadaan.  Kedalaman spiritual memampukan kita untuk melihat lebih jauh dari apa yang tampak, kemudian bijak menyimpulkan mengapa.

REFLEKSI
Tuhan ada di setiap keadaan, bukan berarti Dia sumber dari segala keadaan.  Namun Dia bisa memakai keadaan tersebut untuk menyatakan bahwa Dia ada.

 TEKADKU
Aku mau mengalami Tuhan yang hadir dalam hidup dan pengalamanku.

TINDAKANKU
Aku mau terus belajar melalui beragam keadaan sebagai salah satu cara menggapai kedalaman spiritualitas hidup bersamaNya, yang hadir dan terus berkarya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«