suplemenGKI.com

Selasa, 22 Mei 2018

21/05/2018

Yesaya 6:5-8

MENGHORMATI TUHAN, APA BUAHNYA?

PENGANTAR
Jika menghormati Tuhan, kita pun akan melihat kemuliaan-Nya. Dan, tentu saja, hal ini akan memberi dampak penting bagi kita. Selain berdampak bagi kehidupan pribadi, melihat kemuliaan Tuhan juga akan berdampak bagi hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

PEMAHAMAN

  • Ay. 5. Bagaimana reaksi Yesaya ketika melihat kemuliaan dan kekudusan Tuhan? Dosa apa yang disebutkannya di sini? Mengapa ia menyebutkannya?
  • Ay. 6-7. Melalui Serafim yang ada di situ, apa yang dilakukan Tuhan bagi Yesaya? Apa yang dikatakan Serafim itu kepada Yesaya? Apa dampaknya bagi Yesaya?
  • Ay. 8. Setelah mendengar perkataan Serafim itu, Yesaya mendengar suara Tuhan sendiri. Apa yang dikatakan Tuhan kepadanya? Apa jawaban Yesaya? Apakah Yesaya sudah tahu ke mana Tuhan akan mengutusnya?

Di dalam Yes. 5:8-23, Yesaya berulang kali mengucapkan kata “celakalah” sebagai teguran kepada orang-orang lain sebangsanya (5:8, 11, 18, 20, 21, dan 22). Sekarang, berhadapan dengan kemuliaan-Nya, perkataan itu tertuju kepada dirinya sendiri, “Celakalah aku! aku binasa!” (6:5a). Penglihatan akan kekudusan dan kemuliaan Tuhan membuat Yesaya menyadari dirinya sebagai orang berdosa. Yesaya mengaku bahwa dirinya sesungguhnya tidak lebih baik dari orang-orang sebangsanya. Mereka najis bibir, ia pun najis bibir.

Salah seorang Serafim yang melihat sikap Yesaya dan mendengarkan pengakuannya pun mendatangi Yesaya, mengambil bara dari mezbah, dan menyentuhkannya ke bibir Yesaya, sambil berkata, “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Dengan tindakan dan perkataan Serafim ini, Yesaya mendapat pengampunan secara total: secara jasmani, secara emosi (bebas dari rasa bersalah), dan secara rohani (pulihnya hubungan dengan Tuhan).

Pulihnya hubungan Yesaya dengan Tuhan membuat Yesaya mampu mendengarkan suara-Nya dan memberikan respons positif terhadap perkataan-Nya. Kepada Yesaya, Tuhan menyatakan bahwa Ia mencari seseorang yang bersedia menjadi utusan-Nya. Dan, Yesaya pun menyediakan dirinya. Yesaya langsung menjawab, “Ini aku, utuslah aku!”.  Mengapa Yesaya tidak lebih dahulu bertanya ke mana Tuhan akan mengutusnya? Yesaya telah melihat kemuliaan dan kekudusan Tuhan. Yesaya juga telah mengalami kasih-Nya yang memberikan pemulihan kepadanya. Tidak ada lagi hal yang perlu dipertanyakan kepada-Nya.

REFLEKSI
Tuhan telah berulang kali menyatakan kemuliaan-Nya, kekudusan-Nya, dan kasih-Nya kepada Anda. Bagaimana Anda menanggapinya?

TEKADKU
Ya Tuhan yang penuh kasih, ini aku, utuslah aku!

TINDAKANKU
Aku akan menceritakan pengalamanku ketika aku diampuni dan dipulihkan oleh Tuhan kepada minimal dua orang yang aku temui dalam seminggu ini.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»