suplemenGKI.com

GALON: GAGAL MOVE ON

Bilangan 11:1-6

 

PENGANTAR
Galon atau kepanjangan “gagal move on” merupakan istilah populer di kalangan anak milenial.  Kata ini sering dikenakan pada seseorang yang masih berfokus pada masa lalunya.  Pikiran dan hatinya belum beranjak dari persoalan yang sudah dilewati.  Wajar bila kemudian seseorang tersebut juga  tidak menunjukkan keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di masa kini.   Apakah makna kata “galon” juga menjadi gambaran kehidupan Israel selepas dari Mesir?  Dan bila benar apa dampaknya? Mari kita merenungkan!

PEMAHAMAN

  • Mengapa orang Israel bersungut-sungut kepada Tuhan? (ayat 1, 5 dan 6)
  • Bagaimana Tuhan menanggapi keluhan Israel? (ayat 1)
  • Pernahkah saudara bersungut-sungut kepada Tuhan?  Mengapa?

Seseorang yang belum “move on” dari masa lalu, biasanya selalu mengaitkan apapun yang terjadi dengan masa lalunya.  Entah itu sebagai kebanggaan atau kemarahan kepada masa sekarang yang dianggap tidak sebaik jamannya.  Cenderung sempit memandang masa depan sebagai keadaan yang tidak bisa diharapkan.  Bahkan tidak jarang seolah ingin menghadirkan kembali semua kebanggaan masa lalu, terjadi kembali di masa kini.  Seolah lupa bahwa keadaan telah berubah dan menuntut pembiasaan baru yang lebih baik.  Akibatnya, sulit menerima nasehat, egois, bisa juga mudah emosi, tetapi juga mudah putus asa dan kehilangan harapan.  Ujung-ujungnya marah dan menyalahkan orang lain.

Makna tersebut sama seperti keadaan bangsa Israel.  Mereka gampang bersungut-sungut dan menafsirkan tantangan perjalanan (exodus) sebagai “nasib buruk mereka” (ayat 1).  Penyertaan Tuhan dan segala kasih-Nya dipandang sebelah mata.  Kuasa Tuhan yang terbukti mampu menyediakan apa yang mereka butuhkan, dianggap tidak sebanding dengan masa lalunya, “kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak membayar apa-apa” (ayat 5).  Manna yang semula diterima dengan kecukupan, malah dipahami sebaliknya, “kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun” (ayat 6).  Israel masih belum “move on” dari perbudakan Mesir.  Meskipun secara fisik mereka telah keluar dari Mesir dan sedang menuju Kanaan, tapi mentalitasnya masih seperti budak;  bukan sebagai orang merdeka.  Ujung dari semua keluh kesah itu, Israel menyalahkan Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir.

Bagaimana dengan kita hari ini?  Bukankah kehidupan sebagai orang Kristen tidak ubahnya dengan kehidupan yang lalu?  Artinya, siapapun pasti menghadapi persoalan.  Tidak seorang pun yang bebas dari tantangan kehidupan.  Namun di sisi lain, bukankah Tuhan dengan belas kasih-Nya terbukti menolong dan menyanggupkan melewati semua badai kehidupan kita.  Menoleh ke masa lalu hanya menyisakan kesedihan, kepahitan dan mungkin penyesalan.  Tuhan menghendaki,  setiap orang percaya bergerak maju dengan terus meyakini diri-Nya yang hadir dan bekerja mendatangkan kebaikan bagi setiap anak-anak-Nya.  Apapun tantangannya, jangan undur dan tetap pandang Tuhan.

 

REFLEKSI
Mari merenungkan: Apapun tantangan yang kita hadapi, mari jangan “gagal move on”, sebaliknya percayalah kepada-Nya! Bersama Tuhan dan dalam kuat kuasa-Nya, kita dimampukan untuk terus berjalan maju dan memandang ke depan dengan penuh harapan. 

TEKADKU
Tuhan, tolonglah agar aku agar meninggalkan masa laluku dan belajar terus menerus berfokus pada Tuhan yang terus bekerja di dalam dan bagi masa depanku.  

TINDAKANKU
Hari ini aku mau semangat kembali dan tidak berputus asa mengerjakan pekerjaan dalam keluarga, di tempat usaha, di kantor atau pelayanan sebagai wujud imanku bahwa Tuhan berjalan di depan menuntunku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*