suplemenGKI.com

Selasa, 21 Juni 2016

20/06/2016

TETAP BERSERU

Mazmur 77:1-11

 

PENGANTAR
Adakalanya berbagai krisis dan kesulitan membenturkan iman dengan kenyataan yang  tidak berubah, sehingga tidak jarang manusia mengalami krisis kepercayaan kepada sesamanya, bahkan kepada Tuhan.  Keyakinan yang semula kokoh berubah menjadi keraguan yang mendalam. Apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini?  Mari kita belajar dari pemazmur.

PEMAHAMAN

Ayat 3a           :  Apa yang pemazmur sedang alami?

Ayat 8-11        :  Apa yang pemazmur pikirkan tentang Tuhan?

Ayat 2-7          :  Apa yang pemazmur lakukan dalam pergumulannya?

Pernahkah saudara merasa Tuhan seolah jauh dan tidak mendengar doa kita?

Apa yang saudara lakukan dalam situasi seperti itu?

Kesulitan hidup ada kalanya ibarat kacamata gelap tidak tembus pandang yang menghalangi pandangan manusia melihat jauh ke depan.  Kesulitan hidup menjadi situasi yang sangat menguras energi dan tenaga.  Setiap usaha yang bertujuan mengurangi tekanan, malah berubah menjadi penghalang untuk menemukan jalan keluar.  Situasi seperti inilah yang juga dialami permazmur dalam keluh kesahnya, “apabila aku merenung, makin lemah lesu semangatku” (ay.4b).  Pemazmur merenung, mencoba mencari Tuhan dan mengingat Dia dengan segala perbuatan-Nya, namun hasilnya makin bertambah sedih dan terpuruk.  Seluruh imannya sedang dipertanyakan sampai ke akarnya, ketika melihat kesenjangan antara pengharapan dalam iman dengan kehidupan nyata.  Meski situasi dan pergumulan belum berubah, namun pemazmur mengajarkan keteladanan untuk tetap “berseru-seru dengan nyaring kepada Allah” (ay.2) bahkan terus “mencari Tuhan” (ay.3a) dengan cara “mengingat Allah” (ay.4) dengan segenap “hati” dan “roh” (ay.7).

Melalui mazmur ini, umat Allah ditantang untuk tetap beriman ketika diperhadapkan dengan misteri Allah dan jalan-jalan-Nya yang tidak terselami.  Walaupun kita tidak mampu menyelami rencana-Nya, namun kita harus tetap yakin bahwa Dia lebih besar dari segala permasalahan kita.  Meskipun kita tidak melihat secara langsung kehadiran-Nya, percayalah bahwa Ia tetap ada dan terus membimbing kita melintasi segala kesulitan.  Hal ini hanya mampu dipahami melalui iman yang terwujud secara konkrit.  Berdoa menjadi ekspresi adanya iman yang tetap tertuju kepada Allah, sumber segala pertolongan.  Sedangkan “bekerja” sebagai wujud iman yang mempercayai bahwa berkat dan pertolongan-Nya bekerja melalui apa yang kita kerjakan.  Jadi, teruslah “berseru-seru dengan nyaring kepada Allah” (ayat 2), bukan untuk memaksa, tetapi sebagai ungkapan iman yang bergantung penuh kepada-Nya.  Yakinilah bahwa kasih dan pertolongan-Nya tidak pernah meninggalkan kita.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Ketika kita berseru itu bukan untuk memaksa Dia menuruti kita, tetapi merupakan ungkapan iman yang tunduk kepada rencana-Nya atas kita.

TEKADKU
Tuhan, tolong aku untuk selalu setia dan taat kepada-Mu meski jalan-jalan-Mu sulit aku mengerti.

TINDAKANKU
Aku tetap berseru dan tidak akan mundur meski jalan di depanku sulit kumengerti.  Sebab aku percaya bahwa Dia ada bersama dengan aku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»