suplemenGKI.com

Selasa, 21 Juni 2011

20/06/2011

Mazmur 89:2-5

Segala Pujian Hanya Bagi-Mu Tuhan.

 Semua orang senang dipuji. Ada banyak alasan bisa membuat seseorang senang dipuji, misalnya: Dia merasa pantas, layak, berharga atau hebat sehingga merasa berhak menerima pujian. Jika hal-hal itu yang menjadi alasannya, maka akan terjadi dua hal ketika suatu saat tidak lagi mendapat pujian, Pertama: Ia akan menjadi kecewa ketika tidak lagi mendapat pujian, ia anggap orang-orang sudah tidak menghargainya lagi. Kedua: Ia akan segera melihat bahwa dirinya penuh kekurangan, kelemahan dan  keterbatasan. Kemudian ia menjadi orang yang frustrasi, aneh, minder dan rendah diri atau bahkan mundur dari karyanya. Jika sudah demikian maka biasa yang terjadi adalah merasa diri tidak berharga. Pemazmur dalam Mazmur 89 mengarahkan pujian hanya kepada Tuhan.

 Pertanyaan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Apa yang menjadi alasan pemazmur mengarahkan pujiannya hanya kepada Tuhan?
  2. Apa yang dipahami oleh pemazmur tentang kasih setia Tuhan?
  3. Pernahkah saudara merasa pantas untuk dipuji? Dan pernahkah saudara berpikir siapa yang paling pantas untuk dipuji?

 Renungan:

Ada dua kata yang terus diulang-ulang oleh pemazmur dalam ayat 2-5 pada bagian ini, yaitu kata kasih dan kata setia dalam beberapa bentuk. Kata kasih – setia itu secara tegas hanya ditujukan kepada pribadi tunggal, yaitu Tuhan. Hal itu bertujuan bahwa di dalam pemahaman pemazmur memang hanya satu pribadi yang memiliki kasih dan kesetiaan sejati, kalau ada pribadi-pribadi lain yang mengaku dirinya memiliki kasih – kesetiaan, itu hanya sebuah kepalsuan atau hanya ingin mendapatkan pujian. Maka pemazmur lalu dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada yang bisa disejajarkan dengan Tuhan (Lih. 7) Karena alasan itulah maka pemazmur lalu mengarahkan pujiannya hanya kepada Tuhan dengan berkata “Aku hendak menyanyikan/memuji kasih setia Tuhan selama-lamanya” (lih V. 2) Tidak hanya itu saja, orientasi pujian kepada Tuhan juga karena pemazmur memahami bahwa kasih – setia Tuhan itu bersifat kekal. Artinya tidak akan lekang oleh waktu, oleh perubahan zaman dan oleh ada orang yang memuji-Nya atau tidak. Ungkapan-ungkapan pada ay. 3-5 sangat jelas menunjukkan bahwa kasih dan kesetiaan Tuhan kepada manusia tidak terpengaruh oleh apapun juga. Misalnya: “Kasih – setiaMu dibangun untuk selama-lamanya, kesetiaan-Mu tegak seperti langit” Semua itu menunjukkan sifat kasih setia Tuhan itu berada di atas segala-galanya dan yang tidak mungkin terpengaruh oleh apapun yang ada dan yang terjadi. Bahkan Tuhan berjanji bahwa kasih setiaNya pun berlaku bagi anak-cucu, secara turun-temurun terhadap jemaah orang-orang kudus atau orang-orang yang telah menjadi umat pilihanNya.

Saudara, siapakah kita ini sehingga jika: Karena kita dipilih untuk menjadi anak-anakNya, karena kita dipercaya untuk melayani Dia, dipakai sebagai alat untuk menjadi saluran berkat bagi sesama, karena kita panggil menjadi mitra kerjaNya dan karena kita dilayakkan menerima keselamatan dariNya lalu kita merasa berhak untuk menerima pujian? Oh tidak saudara, mari kita kembalikan semua pujian dan kemuliaan hanya kepada Dia yang berhak, dan layak serta wajib menerima pujian untuk selama-lamanya.

 “Tuhan ajarlah aku supaya ketika aku melayani, ketika aku memberi, ketika aku menolong sesama, ketika aku dipilih sebagai aktivis – pengurus – pemimpin aku tidak menantikan pujian tetapi memberi pujian kepada-Mu saja. Amin”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»