suplemenGKI.com

Bacaan : Amos 6 : 3 – 7

Tema : Rasa tentram yang palsu ( bagian 2 )

PENGANTAR
Apa jadinya apabila sebuah perayaan hari raya gerejawi seperti natal, paskah dan pentakosata dijadikan sebuah pesta/perjamuan sebagai gaya hidup sehari-hari. Mungkin berbagai tanggapan akan bermunculan, Ada yang menyambut dengan senang hati, ada yang menolak dengan tegas, ada yang mengkritik dan lain sebagainya. Orang-orang terkemuka di Samaria juga demikian, mereka membuat kebiasaan keagamaan tertentu menjadi kebiasaan sehari-hari. Mereka membuat pesta dan perjamuan yang berkenaan dengan agama untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Lalu bagaimana Amos menyikapinya ?

PEMAHAMAN

  1. Apa yang dilakukan orang-orang terkemuka Israel dalam pesta-pesta keagamaan ? ( ayat 4-6 )
  2. Bagaimana respon nabi Amos ketika melihat orang-orang terkemuka tersebut menyalahgunakan praktek hidup yang salah dalam keagamaan mereka ? ( ayat 3,7 ).

Pada saat itu orang-orang terkemuka Samaria melakukan kebiasaan pesta, makan minum yang berlebih-lebihan dengan mengikuti kebiasaan yang dimasukkan dari luar negri. Sambil makan mereka berbaring ditempat tidur dari gading ( seperti balai-balai ) dan duduk berjuntai ( secara malas dan tak senonoh bertopangkan satu siku ). Dalam pesta tersebut mereka makan daging terbaik yang sangat empuk dari anak domba dan anak lembu terbaik. Seperti pada pesta-pesta keagamaan diperdengarkan musik dan nyanyian demikianlah orang-orang kaya Samaria melakukannya. Mereka berfoya-foya, bernyanyi-nyanyi, sambil minum anggur dari bokor. Dalam segala hal perayaan tersebut  mereka melakukan dengan rasa aman dan tentram yang palsu, berpesta pora, makan-minum dan bersukaria bahkan mereka menganggap hal itu jauh dari hukuman Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang Samaria adalah menghinakan ibadat yang seharusnya untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

Bagaimanapun juga, Tuhan akan mengakhiri rasa aman yang palsu itu, kesombongan dan kecongkakan orang-orang terkemuka di Samariasebab Tuhan akan menyerahkan seluruh kota dan segala isinya. Hukuman itu digambarkan sebagai pengangkutan para tawanan, seperti nasib dari suatu bangsa yang kalah dalam perang.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa kesombongan dan kecongkakan akan mendatangkan hukuman. Sedangkan kerendahan hati dan kemurahan hati  akan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Marilah kita menjalani hidup ini dengan mendatangkan kebaikan. Bagaimana dengan saudara ?

REFLEKSI
Renungkanlah sejenak !  pernahkah saudara larut dalam kehidupan yang penuh pesta pora sampai lupa segalanya ?

TEKADKU
Ya Tuhan ampunilah kami ketika kami mabuk dalam pesta-pora kehidupan  sehingga kami lupa kepada Tuhan dan sesama.

TINDAKANKU
Kita harus menjalani kehidupan ini dengan bersyukur atas apa yang kita peroleh.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*