suplemenGKI.com

HADAPI DENGAN PERTOLONGAN TUHAN

Daniel 3:19-30

 

Pengantar
Kemarin kita telah memperhatikan dan merenungkan bersama tentang pentingnya mempertahankan iman di tengah tuntutan zaman. Kita diajar untuk tetap setia dan taat pada Tuhan.Hari ini kita akan kembali memperhatikan kelanjutan kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Apa yang akan Nebukadnezar perbuat pada mereka? Bagaimanakah cara Tuhan untuk menolong dan melepaskan mereka? Marilah kita memperhatikannya.

Pemahaman

  • Ayat 19-23    : Konsekuensi apakah yang harus ditanggung oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika tetap memilih untuk menyembah pada Tuhan?
  • Ayat 24-27    : Mengapa Nebukadnezar menyuruh Sadrakh, Mesakh dan Abednego keluar dari perapian yang menyala-nyala? ?
  • Ayat 30          : Bagaimanakah kehidupan Sadrakh, Mesakh dan Abednego setelah peristiwa itu?

Ketika Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap memilih untuk menyembah Tuhan yang hidup, maka amarah Nebukadnezar semakin memuncak. Sehingga tiga orang muda itu dicampakkan ke dalam perapian yang panasnya dibuat tujuh kali lebih dari panas yang biasa (ayat 19). “Tujuh kali lebih panas” merupakan bahasa kiasan yang dipakai untuk menggambarkan tingkat panas yang maksimum. Tentu siapa saja yang dicampakkan dalam perapian tersebut akan mengalami kematian. Sebelum Sadrakh, Mesakh dan Abednego dicampakkan ke dalam perapian, mereka terlebih dahulu diikat dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian yang lain (ayat 21). Peralatan tersebut merupakan pakaian resmi mereka yang menunjukkan tingkatan pemerintahan yang tinggi yang telah mereka capai di Babel.

Namun sesuatu hal telah terjadi dan membuat Nebukadnezar terkejut. Ia melihat ada empat orang yang ada di perapian (ayat 24). Nebukadnezar mengira bahwa selain mereka bertiga, ada dewa yang sedang menjaga mereka. Hal ini dapat dimengerti karena Nebukadnezar tidak mengenal Allah. Mengetahui akan hal itu, Raja pun memanggil tiga orang muda itu untuk keluar dari perapian (ayat 26). Ia pun mengakui bahwa Allah yang mereka sembah, adalah Allah yang hidup (ayat 28). Ia mengakuinya di hadapan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri. Sadrakh, Mesakh, Abednego telah ditolong Tuhan untuk terlepas dari bahaya maut. Dalam kondisi yang penuh dengan ketegangan saat berada dalam perapian, mereka juga dikuatkan dan tak ada api yang menghanguskan tubuh mereka. Nama Tuhan pun semakin dipermuliakan dan dikenal oleh bangsa lain. Bahkan mereka bertiga diberikan penghargaan yaitu kedudukan tinggi di wilayah Babel (ayat 30).

Refleksi
Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak membalas kemarahan Nebukadnezar dengan berbalik menyerangnya. Melainkan mereka menghadapi konsekuensi yang harus ditanggung dengan iman yang teguh bahwa Tuhan akan menolong mereka, dan hal itu sangatlah terbukti. Bagaimanakah dengan kita? Ketika kita tetap memilih untuk hidup di jalan Tuhan, akan tetapi masih ada orang yang berusaha menjatuhkan, apakah kita akan berbalik membalasnya atau justru bersikap tenang? Saudara, pembalasan adalah hak Tuhan. Tuhan akan membela perkara orang benar yang tetap hidup dalam kasih setia-Nya.

Tekadku
Tuhan, ajarlah dan mampukanlah aku untuk memiliki hati yang teguh ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang membenciku karena telah hidup beriman kepada-Mu. Ajarlah aku untuk mengampuni dan mengasihi mereka.

Tindakanku
Hari ini aku akan berdoa bagi orang yang telah memusuhi atau membenciku oleh karena imanku kepada Yesus Kristus.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«