suplemenGKI.com

“Syafaat yang Mendatangkan Manfaat”

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab

  1. Ayat 23-26: Maksud apa yang tersirat dalam pertanyaan dan pernyataan Abraham kepada Tuhan di ayat-ayat tersebut?
  2. Ayat 27-28 a, 29 a, 30 a, 31 a, 32 a: Mengapa Abraham terus mengajukan penawaran kepada Tuhan dengan jumlah yang juga terus berkurang? (Apa yang sekiranya ada dalam pemikiran Abraham?)
  3. Bagaimana cara Abraham meminta kepada Tuhan: dengan marah dan kecewa, atau dengan berhati-hati dan merendahkan diri?
  4. Pada akhirnya, apakah ada yang diselamatkan dari hukuman atas Sodom Gomora?
  5. Dari semua dialog dan permohonan Abraham dengan Tuhan, apa yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan doa Anda sekarang ini?

Renungan

Ketika mengetahui apa yang terjadi atas Sodom dan Gomora, Abraham sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup mereka telah mendukakan Tuhan dan sudah pasti setiap pelanggaran akan menuai hukuman dari Tuhan. Pada saat itulah Abraham memberanikan diri dengan segala kerendahan hati menaikkan permohonan kepada Tuhan agar tidak menghancurkan semua penduduknya, melainkan berkenan menyelamatkan orang-orang yang hidup dengan benar, sekiranya ada.  Saat itu tentu Abraham mengingat keponakannya terkasih, Lot dan keluarganya. Namun bukan hanya Lot tetapi juga orang-orang benar lainnya yang mungkin ada di kota itu. Tetapi rupanya Abraham sendiri tidak terlalu meyakini bahwa ada sejumlah lima puluh orang yang hidup benar di kota tersebut (seperti jumlah/angka yang pertama kali disebutkannya kepada Tuhan – ay.24). Karena itu akhirnya jumlah/angka yang disebutkannya terus berkurang.  Dibalik semua tawar-menawarnya dengan Tuhan, tersirat adanya kerinduan dan harapan yang besar agar Tuhan mengampuni dan menyelamatkan kota Sodom dan Gomora, setidaknya kepada orang-orang benar.  Sebuah permintaan yang didasarkan pada pengenalan terhadap Allah yang yang adalah Hakim yang adil dan penuh kasih.  Karena itu akhirnya Abraham menyerahkan seluruh permohonannya pada kuasa Tuhan dan ternyata Tuhan menyelamatkan Lot dan keluarganya dari hukuman.

Dari bacaan hari ini kita bisa belajar untuk menjadi seorang seperti Abraham yang mau berdoa untuk keselamatan/persoalan orang lain.  Bahkan doanya dinaikkan dengan sungguh-sungguh, penuh kerendahan hati seakan persoalan itu adalah persoalan yang dihadapinya sendiri, bukan masalah orang lain.  Jika kita cenderung berdoa asal-asalan, alakadarnya untuk masalah orang lain, apalagi kita jarang mendoakan orang lain, marilah memulai lembaran baru dalam kehidupan doa kita, rindu dan sungguh-sungguh bersyafaat untuk pergumulan orang lain.

Doa-doa kita merefleksikan seberapa besar kasih & kepedulian kita terhadap orang lain, dan sekaligus menyatakan besarnya kesediaan kita menjadi saluran berkat Tuhan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*