suplemenGKI.com

PERCAYA DAN TAAT

Kejadian 17:15-27

Pengantar
Dewey VanderVelde menolak dibaptis. Ia bersikeras menolak, bahkan ketika istri dan putrinya dibaptis pada suatu hari Minggu siang. Bertahun-tahun kemudian, pendetanya berkhotbah tentang pembaptisan Yesus. Ia menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis pada awalnya menolak untuk membaptis Yesus, tetapi Yesus berkata, “Demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15). Kemudian pendeta itu berkomentar, “Jika Yesus saja menaati kehendak Bapa-Nya, maka kita pun seharusnya begitu.” Seusai khotbah itu, Dewey meminta untuk dibaptis. Ia mengatakan bahwa ia mestinya menaati perintah Tuhan dari dulu, dan ia menyesal karena telah begitu keras kepala. Tentunya hal ini lebih dari sekadar masalah baptisan; itu adalah masalah ketaatan. Melalui renungan ini kita akan belajar tentang Abraham yang meresponi janji Allah dengan selalu percaya sepenuhnya kepada Allah dan  taat melakukan perintah Allah.

Pemahaman

  • Ayat 15-16    : Mengapa Allah kembali meneguhkan janji-Nya kepada Abram?
  • Ayat 17-27    : Bagaimana respon Abram terhadap janji dan perintah Allah tentang sunat?

Allah kembali meneguhkan janji-Nya kepada Abram karena Allah ingin menekankan kepada Abram bahwa janji tentang keturunan itu berasal dari Sarai istrinya. Melalui Sara Allah akan memberikan seorang anak laki-laki dan akan memberkatinya sehingga Sara akan menjadi ibu bagi bangsa-bangsa dan raja-raja bangsa-bangsa (Ay. 16).

“Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa.” (Ay. 17). Kata ‘tertunduklah’ dalam bahasa Ibrani sama dengan kata ‘sujud’ dalam ayat 3. Sikap sujud Abram menunjukkan hormat dan sekaligus iman (penerimaan terhadap firman Tuhan). Abraham juga tertawa, dia dikuasai oleh sukacita yang meluap-luap. Tidak ada kesan ketidakpercayaan dalam ayat ini tetapi justru bukti tentang kekaguman dan kegembiraan yang besar. Pertanyaan Abraham yang berbunyi “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” ini tidak berbicara tentang sesuatu yang sama sekali meragukan sebab ia yakin bahwa ia tidak bimbang terhadap janji Allah (Rm. 4:20), tetapi sebagai sesuatu yang menakjubkan dan mengagumkan yang tidak bisa dikerjakan kecuali dengan kekuatan Allah yang mahakuasa. Dengan iman Abraham percaya terhadap janji Allah.

Setelah mendengar perintah Allah tentang tanda perjanjian yaitu sunat bagi setiap laki-laki di antara Abram (Ay. 10), Abraham taat dan melakukan perintah itu. Abraham memanggil Ismael, dan semua orang yang lahir di rumahnya, dan juga semua orang yang dibelinya (Ay. 23-27). 

Refleksi
Renungkan: Bagaimana saudara meresponi setiap janji-janji yang telah Tuhan nyatakan kepada kita melalui firman-Nya? Apakah kita taat dan percaya, ataukah kita masih meragukan kuasa Tuhan dalam hidup kita?

Tekadku
Ya Tuhan, tolong saya untuk selalu percaya akan setiap janji-Mu dan ajar saya untuk selalu taat pada setiap perintah-Mu

Tindakanku
Saya akan mencatat janji-janji yang Tuhan telah nyatakan bagi saya melalui firman-Nya, dan saya akan setia untuk menanti janji itu, saya juga akan selalu bersyukur pada setiap janji Tuhan yang sudah tergenapi/yang sudah Tuhan lakukan bagi saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«