suplemenGKI.com

Kemuliaan Tuhan, sebagai Raja (1)

Mazmur 99:1-3

Pengantar

Apakah Saudara pernah gemetar? Pada umumnya, orang menjadi gemetar ketika merasa takut. Mereka yang takut sewaktu berhadapan muka dengan penjahat, menjadi gemetar karena merasa takut. Sewaktu orang melihat hantu dan merasa takut, orang itu juga menjadi gemetar. Hari ini kita akan merenungkan sebuah nas Alkitab yang mencatat bagaimana bangsa-bangsa menjadi gemetar.

Pemahaman

Ay. 1-3  : Apakah inti berita yang ditulis Pemazmur dalam tiga ayat ini?

Ay. 1-3  :Bagaimana Pemazmur menggambarkan kebesaran Tuhan?

Menurut isinya, Mazmur 99 termasuk di dalam kelompok Mazmur Raja, sama seperti Mazmur 96, 97 dan 98. Namun demikian Mazmur 99 ini berbeda dengan ketiga Mazmur yang mendahuluinya tersebut, yakni tidak adanya pembicaraan mengenai kedatangan Tuhan.

Tiga ayat pertama dari Mazmur 99 ini dapat dikatakan sebagai bait pertama, yang inti pesannya adalah: Tuhan, Raja yang maha besar. Kebesaran Tuhan itu digambarkan dengan beberapa hal, yaitu: Pertama, status Dia sebagai Raja. Dengan tegas Pemazmur menyatakan: Tuhan itu Raja. Sudah pasti Dia bukanlah raja yang wilayah teritorialnya kecil. Hal ini diungkapkan dalam ayat kedua, Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Itu berarti tidak ada seorang rajapun di dunia ini yang dapat menandingi-Nya, sebab Ia mengatasi (baca: melampaui; TL: tertinggilah Ia; bnd. AV: above) segala bangsa.Kedua, Dia bertahta di atas kerub. Kalau kita mengacu pada kerub yang ada di Bait Allah, tinggi sayap kerub itu mencapai sekitar 5 meter. Di bawah naungan sayap kerub itu terletak tabut perjanjian. Akan tetapi Pemazmur tidak mengatakan bahwa tahta Tuhan di bawah naungan kerub, melainkan di atas kerub. Dapat kita bayangkan posisi tahta Allah itu cukup menjulang, menggambarkan keagungan.Ketiga, respon yang diminta Pemazmur. Kebesaran Tuhan, Sang Raja itu, membuat bangsa gemetar, bukan karena takut, melainkan karena gentar. Pemazmur juga memanggil kita untuk menyanyikan syukur bagi-Nya (ay. 3)

Refleksi

Seberapa dalam pengenalan kita terhadap kebesaran Tuhan, Sang Raja itu? Jawabannya bukanlah terletak pada kalimat jawab kita, tetapi pada sikap kita. Apakah kita ikut arus dunia yang berbicara sembarangan tentang Tuhan pun dengan Tuhan?

Tekad

Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk takzim tatkala berbicara tentang Tuhan pun denganEngkau. Amin

Tindakan

Dalam seminggu ke depan, saya akan menjaga sikap (posisi tubuh) tatkala berdoa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«