suplemenGKI.com

Kejadian 2:18-24

Antara berpisah dan bersatu

 

Di dalam sebuah pernikahan terjadi penyatuan kehidupan seorang pria dengan seorang wanita. Hari ini kita akan merenungkan tentang penyatuan tersebut, baik tentang pemahamannya maupun penerapannya.

- Bolehkah seseorang tinggal bersama dengan mertuanya?

- Mengapa dikatakan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, bukan seorang wanita akan meninggalkan ayahnya dan ibunya?

 

Renungan

Ketika Allah melihat bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, maka Diapun menjadikan seorang penolong yang sepadan dengan dia. Penolong yang sepadan tersebut tidak berasal dari kalangan binatang-binatang hutan maupun burung-burung di udara, melainkan berasal dari manusia itu sendiri. Prosesnya, TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; dan ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu (Kej. 2:21-22). Namun dalam perkembangannya kemudian apa yang berasal dari satu itu terpisah. Pria dan wanita itu berada terpisah, mereka hidup di dalam keluarga masing-masing.

Apa yang terjadi dalam sebuah pernikahan adalah penyatuan kembali apa yang terpisah itu. Penyatuan ini harus terjadi sedemikian rupa sehingga mereka menjadi satu daging. Manusia, laki-laki dan perempuan, berasal dari satu daging. Dalam ayat 24 dikatakan, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Kalimat ini menyiratkan bahwa untuk dapat bersatu, maka ada yang harus ditinggalkan. Meninggalkan ayah dan ibu di sini bukanlah dalam pengertian mengabaikan orang tua yang telah mendidik dan membesarkan kita, akan tetapi ini merupakan wujud adanya kehidupan baru dengan sistem kehidupan yang baru.

Seorang laki-laki berusia 29 tahun yang menikah dengan seorang wanita berusia 26 tahun, adalah seorang laki-laki yang telah hidup dengan sistem dan nilai hidup tertentu selama 29 tahun yang bersatu dengan seorang wanita yang telah hidup dengan sistem dan nilai hidup tertentu selama 26 tahun. Pernikahan adalah penyatuan sistem dan nilai hidup tersebut sehingga menjadi sebuah sistem dan nilai hidup yang baru. Pembentukan sistem dan nilai hidup ini hanya dimungkinkan kalau kedua belah pihak rela mengubah sistem dan nilai hidup mereka sebelumnya, yaitu sistem dan nilai hidup yang didapat dari keluarga asal mereka masing-masing.

Adapun penyebutan laki-laki yang meninggalkan ayah dan ibunya di sini dapat dipahami dari sudut pandang budaya patrilineal, di mana laki-laki ditetapkan sebagai kepala keluarga. Oleh karena itu tindakan laki-laki yang meninggalkan ayahnya dan ibunya ini merupakan tindakan yang juga harus dilakukan oleh wanita. Apabila salah satu pihak tidak meninggalkan keluarga asalnya, maka sistem dan nilai hidup yang baru sulit terbentuk.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«