suplemenGKI.com

Selasa, 2 Maret 2021

01/03/2021

BUKAN SEKEDAR JANJI

Kejadian 21:1-7

 

Pengantar
Adakalanya manusia mudah mengingkari janji yang telah diberikan pada seseorang. Misalnya: janji akan memberikan sesuatu kepada orang lain, namun tidak ditepati dengan berbagai alasan. Ada pula yang mengingkari kekompakan dalam hubungan persahabatan, relasi bersama dengan pasangan, dan sebagainya. Ketika janji itu diingkari, maka korban akan menyesal dan sulit untuk percaya pada pelaku. Tak jarang bila korban merasa tersakiti, maka ia akan menjuluki pelaku dengan sebutan PHP, yakni Pemberi Harapan Palsu yang mudah mengobral janji.

Jika seseorang dalam kelemahannya dapat ingkar janji, lain halnya dengan janji yang diberikan Tuhan. Ia berjanji dan menepati perkataan-Nya. Bahkan janji yang diberikan-Nya akan membawa sukacita bagi umat. Hal ini juga dialami oleh tokoh Alkitab pada bacaan kita pada hari ini, yakni Abraham dan Sara.

Pemahaman

  • Ayat 2             : Janji apakah yang diberikan Tuhan kepada Abraham dan Sara?
  • Ayat 3-4         : Bagaimanakah wujud ketaatan Abraham terhadap janji yang telah dinyatakan Tuhan kepadanya?
  • Ayat 6-7         : Bagaimanakah Sara memaknai janji yang Tuhan tepati kepadanya?

Bacaan kita pada hari ini diawali dengan kalimat “Tuhan memperhatikan Sara” (ayat 1). Kata “memperhatikan” memiliki makna memberikan berkat yang sangat berharga. Setelah mereka menantikan janji akan kehadiran seorang anak laki-laki secara berulang, maka Tuhan pun menepatinya. Tuhan menghadirkan kasih karunia-Nya pada mereka, sehingga Sara mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki di masa tuanya (ayat 2). Abraham menamai anak itu Ishak, yang berarti dia tertawa. Nama ini memberikan kenangan tersendiri, sebab Sara pernah tertawa ketika mendengar bahwa Tuhan akan memberikan seorang anak kepadanya (Kejadian 18:12-15). Ia menganggap kondisinya yang sudah tua tak memungkinkan untuk memiliki keturunan. Namun, apa yang dipikirkan olehnya justru berbanding terbalik.

Ketika Ishak dilahirkan dan berumur delapan hari, Abraham taat pada perintah Allah dengan menyunat anak itu seperti yang diperintahkan Allah kepadanya dan menjadi tanda perjanjian antara Allah dengannya (lihat Kejadian 17:10-12). Sara yang pada saat itu melihat bagaimana janji Allah ditepati dalam keluarganya, sangatlah bersukacita. Ia tak lagi tertawa akan ketidakpercayaannya. Ia takjub atas anugerah Allah yang memberikan kekuatan kepadanya untuk merawat seorang anak yang dilahirkannya di masa tua (ayat 6-7).

Refleksi
Marilah kita merenungkan: Dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, apakah adakalanya kita bersikap seperti Abraham dan Sara yang selalu mengandalkan kemampuan sendiri dan meragukan janji Allah? Apakah kita lebih bergantung pada janji dan pertolongan orang lain, ataukah justru tetap berpegang pada janji Allah dengan iman dan ketaatan?

Tekadku
Tuhan, ajarku untuk selalu percaya akan janji-Mu. Tolonglah agar aku tidak menjauh dari-Mu dalam segala kondisi yang terjadi.

Tindakanku

  • Aku mau memohon ampun pada Tuhan, apabila dalam menghadapi persoalan hidup, aku lebih mengandalkan logika dan kemampuanku sendiri.
  • Jika aku pernah terjebak akan janji pertolongan orang lain yang membuatku terluka dan kecewa, hari ini aku belajar untuk tidak lagi melakukannya. Aku akan menaruh harap dan kepercayaanku pada janji penyertaan Tuhan yang membawa sukacita dan pengharapan.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»