suplemenGKI.com

Selasa, 2 Juli 2019

01/07/2019

AMAN BERSAMA ALLAH

Yesaya 66: 10-14

 

PENGANTAR
Bulan lalu saya berkesempatan menggendong bayi laki-laki berusia dua minggu, anak keponakan.  Bayi itu begitu tenang dan tidak terganggu meski sudah berpindah tangan dari mamanya ke gendongan saya.  Pastinya saya pun tidak akan membuatnya terganggu, lalu terbangun dari tidurnya.  Pengalaman ini dapat menggambarkan bagaimana pemeliharaan Allah yang memberikan rasa aman bagi umat-Nya, Israel.  Mari kita renungkan!

PEMAHAMAN

  • Apa yang Yesaya sampaikan tentang kehendak Allah bagi umat-Nya? (ayat 10)
  • Apa yang Yesaya sampaikan agar umat berpengalaman dengan Allah? (ayat 11)
  • Apa yang Allah janjikan kepada umat yang berpegang pada firman-Nya? (ayat 12-14)
  • Apakah anda punya pengalaman rasa aman bersama Allah? 

Bagi sementara orang sikap Allah yang kembali mengasihi Israel dinilai tidak konsisten.  Mestinya dihukum dan jangan diberi kesempatan lagi.  Tujuannya supaya Israel menghargai teguran dan kasih Allah. Tapi itulah yang membedakan manusia dengan Allah.  Manusia membenci dan menghukum sesamanya.  Sebaliknya, Allah membenci perilaku Israel tetapi membangun kembali relasi di dalam kasih.  Melalui Yesaya, Allah berfirman kepada Israel, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu” (ayat 13).  Allah paham betul pergumulan hidup Israel yang seringkali berusaha hidup benar;  tapi yang terjadi justru sebaliknya, kegagalan.  Allah berjanji memberi anak-anak-Nya damai sejahtera dan menggendong mereka sama seperti seorang ibu menggendong anaknya.  Tujuannya agar Israel tahu hanya Allah yang mampu memberikan rasa aman yang sesungguhnya.  Allah menghibur dan menguatkan Israel.  Namun pesan yang penuh kasih sayang itu ditujukan bagi orang-orang yang takut kepada Allah, yaitu mereka yang “gentar kepada firman-Nya” (ayat 5).

Perjalanan kehidupan selalu diwarnai dengan pergumulan hidup yang kadang silih berganti.  Spontan, siapapun pasti berusaha mencari sandaran demi rasa aman.  Manusia bisa terjebak pada rasa aman yang semu.  Sapaan Allah kepada Israel mengingatkan kita bahwa adalah kesia-siaan bila mencari rasa aman pada keadaan dan sesama.  Mereka sama seperti kita yang tidak mampu memberi rasa aman.  Allah adalah sumber rasa aman itu.  Allah menolong, menghibur dan menjamin pertolongan-Nya dengan “tangan-Nya yang kuat” (ayat 14b).  “Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur” (ayat 13), demikianlah janji Allah kepada umat-Nya.  Tidakkah janji Allah memberi rasa aman?  Tidakkah janji perlindungan-Nya memberi jaminan atau kepastian Dia selalu ada buat kita?  Dalam penyertaan Allah, hidup kita ibarat “rumput muda yang tumbuh dengan lebat” (ayat 14a).  Jadi andalkanlah Allah maka rasa aman yang memberikan “sukacita” (ayat 10) akan menjadi nyata dalam hidup kita.

REFLEKSI
Rasa aman sejati bukan terletak pada keadaan yang tenang atau kepastian janji dari sesama; tetapi hanya berasal dari Dia ketika kita mau secara aktif menyerahkan segala perkara kepada-Nya. 

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran firman-Mu hari ini.  Mampukan saya menyerahkan, mempercayai dan menjalani hidup sepenuhnya bersama-Mu.  Sebab hanya Engkaulah sumber tenangku dalam hidupku.  

TINDAKANKU
Saya tidak mau menyandarkan hidup pada segala sesuatu yang saya punya, sebab bisa hilang dalam sekejap dan tidak pernah bisa memberi rasa aman sejati.  Saya mau berserah kepada-Nya melalui ibadah dan doaku, sebab Dialah sumber tenangku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»