suplemenGKI.com

Yesaya 40:6-8.

 

Hidup Manusia Rapuh, Firman Tuhan Kekal Selamanya

 

Pengantar:

Joel Osteen hamba Tuhan yang hobby olahraga basket. Pada musim semi ia melewati liburannya di Colorado. Suatu pagi ia melakukan olah raga lintas alam dengan jarak 3 mil menuju puncak gunung Beaver Creek, dengan ketinggian kira-kira 11.000 kaki dari permukaan laut. Dalam hati ia berkata ini hanya hal kecil, karena dia biasa olah raga basket yang jauh lebih keras dari sekedar melintas alam. Namun baru selesai melintasi anak tangga pertama ia sudah merasa nafasnya berat, tidak seperti biasanya. Ia mencoba untuk bersikap lebih santai tidak terintimidasi oleh obsesi harus mencapai puncak, tetapi kondisi fisiknya semakin payah. Kemudian seorang bapak tua berkata “engkau harus sadar bahwa Beaver Creek berbeda dengan lapangan basket, ini hanya membutuhkan keterbukaan untuk menerima bahwa manusia rapuh” Kalimat itu membuat Joel Osteen terdiam dan meminta ampun pada Tuhan.

 

Pemahaman:

  1. Apa dasar dan maksud dari dialog firman Tuhan di ayat. 6!
  2. Apa makna hidup manusia yang dianalogikan seperti rumput dan bunga rumput? (6b-7)
  3. Jika demikian hidup manusia, maka kepada siapa manusia harus bergantung? (8)

 

Ketidaksadaran (Unconsciousness) salah satu pengertiannya adalah pikiran manusia

yang sangat dikendalikan oleh keegoisan, membuatnya tidak mampu menyadari keadaan dirinya yang terbatas dan lemah. Pikiran yang demikian membutuhkan pengingatan. Dalam konteks bacaan hari ini, nampaknya Israel tidak menyadari bahwa dirinya lemah dan rapuh, jika keadaan itu dibiarkan akan membahayakan Israel sendiri. “Berserulah” adalah bentuk intervensi Allah untuk mengingatkan Israel akan dirinya yang seperti rumput dan bunga rumput yang begitu hijau, indah, semerbak tetapi di balik itu semua ia mudah layu, kering dan mati. Manusia dalam segala kegagahannya, kehebatannya dia hanyalah rapuh. The Wycliffe Bible Commentary: Hidupnya tidak memiliki martabat dan arti yang nyata.

Tuhan mengingatkan Israel bahwa apapun kehebatan, kekuatan dan kejayaan manusia tidak bisa menolong dirinya dari murka Allah jika Allah bertindak menghukum manusia. Kabar baiknya adalah sekalipun manusia lemah dan rapuh, tetapi firman Tuhan kekal selama-lamanya. Hal ini berbicara tentang Allah yang adalah Sang Firman yang hidup (Yoh 1:1) Yang hadir dan hidup di tengah-tengah manusia. Pertanyaannya, adalah apakah kita mau terus-menerus bergantung pada Firman Hidup itu? Hidup kita akan bermartabat dan memiliki arti yang nyata manakala kita bergantung penuh pada Sang Firman Hidup.

 

Refleksi:
Janganlah membanggakan apapun yang apa pada dirimu, karena semua itu seperti rumput dan bunga rumput.

 

Tekad:
Tuhan, aku menyadari siapa diri ini di hadapanMu. Ajarlah agar aku selalu bergantung padaMu.

 

Tindakan:
Aku berusaha, berjuang dan berupaya untuk segala sesuatu, tetapi aku akan lebih berusaha, berjuang dan berupaya menjadikan Tuhan Yesus segala-galanya dalam hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*