suplemenGKI.com

Mazmur 84:1-7

Rindu pada TUHAN Pangkal Kebahagiaan

Mazmur 84 ini memberikan gambaran indah tentang hasrat serta kerinduan untuk berada di dalam rumah TUHAN. Hasrat dan kerinduan yang dimaksudkan oleh Pemazmur ini tidak hanya sekedar untuk beribadah selayaknya orang rutin datang beribadah di bait ALLAH. Namun rupanya kerinduan ini lebih mengacu kepada hasrat mendalam untuk memiliki relasi yang intim dengan ALLAH yang dinyatakan melalui ekspresi puji-pujian dan penyembahan kepada ALLAH dengan sepenuh hati.

  • Apa yang melatarbelakangi Pemazmur menaikkan kerinduan untuk berada dekat dengan ALLAH ini?
  • Menurut Pemazmur, apa motivasi terdalam yang seharusnya menggerakkan kita untuk beribadah?(ayat 3).
  • Kebahagiaan seperti apakah yang akan diperoleh seseorang yang memiliki persekutuan yang  intim dengan ALLAH? (ayat 4-7)

Renungan:

Nyanyian Mazmur 84 ini merupakan kumpulan bani Korah (termasuk keturunan Lewi yang setelah masa pembuangan menjadi penjaga pintu Bait Suci. Rupanya Pemazmur adalah insan yang sungguh-sungguh mengerti bahwa kebahagiaan hidup sejati bukanlah terletak pada hal-hal yang jasmani melainkan perkara rohani yang membuatnya semakin dekat dengan ALLAH. Sebagai penjaga pintu Bait ALLAH, yang sangat dekat dengan dunia pelayanan, Pemazmur tidaklah lantas menjadi puas karena sudah dipercayakan tugas mulia di Bait ALLAH, bahkan setiap saat mereka bisa berada di kediaman ALLAH itu. Bagi Pemazmur, yang lebih penting dari semuanya ialah sebuah kedalaman hubungan atau persekutuan dengan ALLAH secara pribadi.

Kerinduan Pemazmur untuk berada dekat dengan ALLAH juga didasari oleh keyakinannya bahwa ALLAH selalu rindu juga untuk didekati oleh umatNya. Keyakinan itu nampak dari ayat 4 (Gambaran burung-burung yang juga boleh datang ke baitNya meski kadang hanya untuk mengotori dan mengganggu proses ibadah). Pemazmur sangat yakin bahwa ALLAH senantiasa bersedia menerima umatNya walau mereka penuh dengan kotoran dosa dan ketidaklayakan. Itu sebabnya Pemazmur juga mencontohkan bagaimana motivasi yang seharusnya dibawa untuk mendatangi ALLAH, yaitu motivasi yang lahir dari cinta yang menyala akan Allah dalam hati (ayat 3).

Lebih lanjut, Pemazmur juga mengungkapkan melalui Mazmur yang ditulisnya bahwa ada sebuah konsekwensi logis, yaitu kebahagiaan manakala kita hidup dekat dengan ALLAH. Berupa apakah itu? Jika kita menyimak ayat 4-7, kebahagiaan yang kita dapat tidak dibatasi oleh kebahagiaan secara fisik/materi. Persekutuan erat kita dengan ALLAH akan membuat kita mendapatkan ”kekuatan yang besar dan sukacita  di dalam TUHAN” (ayat 6). Kekuatan dan sukacita batin yang bersumber pada TUHAN inilah yang membuat kita sanggup menatap ke depan meski kita tahu bahwa di depan banyak rintangan dan halangan. Kekuatan dan sukacita batin yang bersumber pada TUHAN itu juga yang akan membuat kita tetap bertahan hingga akhirnya, meski kita menjalani hidup dengan segala keletihan yang dibebankan dunia pada kita.

Pemazmur sungguh paham bahwa tidak pernah ada sumber lain dalam kehidupan manusia, selain TUHAN ALLAH yang sanggup membuatnya bahagia baik di saat yang menyenangkan atau tidak. Itu sebabnya kerinduan jiwanya akan hubungan yang mendalam dengan ALLAH sungguh menjadi doa serta harapan terbesarnya. Apakah kita juga memiliki penghayatan yang sama dengan Pemazmur sehingga kitapun selalu rindu bertumbuh dan memiliki persekutuan yang intim dengan TUHAN ALLAH kita?

”Tak pernah ada kekuatan dan kebahagiaan

yang melebihi besarnya kekuatan yang ditawarkan oleh  TUHAN”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«