suplemenGKI.com

Selasa, 19 Juni 2012

18/06/2012

Ayub 38:1-11

Keadilan dan Kasih Allah

Memahami realita diri bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk menerimanya.   Belum tentu yang disimpulkan mengenai penyebab seperti yang orang lain pikirkan.  Sepanjang yang bersangkutan belum  pernah mengalami penderitaan berat, pemahaman sangat mungkin akan tetap berjarak dengan kebenaran riil.  Rangkaian pertanyaan Allah dalam perikop ini merupakan upaya apologia terhadap kesimpulan yang terlalu cepat tentang dirinya, dalam hubungannya dengan penderitaan Ayub

Pertanyaan Penuntun:

  1. Kepada siapakah Allah menyatakan diriNya dalam bagian ini?  (ayat 1)
  2. Bagaimana Allah menggambarkan kemahakuasaan diriNya sebagai pencipta?  (ayat 4, 5, 8, 10)
  3. Bagaimana Allah menggambarkan kemahakuasaan diriNya sebagai pemelihara dan penentu kehidupan?  (ayat 7, 8, 11)

 

RENUNGAN

Ada penafsir yang meyakini bahwa atas perkenan Allah melalui iblis-lah yang menjadi sumber penderitaan Ayub.  Yang lain mengatakan sistim dan tata masyarakatlah yang menjadikan Ayub menderita.  Terlepas tafsir mana yang benar, butuh kajian lebih lanjut.  Namun sesuatu yang lebih relevan dengan kehidupan orang percaya hari ini justru terletak pada ketegangan paham ketika melihat penderitaan Ayub. Tidakkah Allah yang baik  memperhitungkan kebaikan dan kesalehan Ayub sebagai suatu prestasi yang layak diperhitungkan sehingga ia tidak menderita?  Tidakkah sudah seharusnya  penderitaan  hanya layak untuk orang jahat, bukan untuk orang benar.  Tapi faktanya?  Semua manusia menderita.  Dimana keadilan Allah?

Pengalaman menderita dan kehilangan orang terkasih, menjadi bukti bahwa setiap kita pernah mengalami ketegangan paham seperti ini.  Bagaimana  menghubungkan keadilan  dan kasih Allah dengan penderitaan orang percaya? Inilah yang dimaksud dengan teodisi (Theo, Allah;  dike, keadilan) yaitu meyakini/mempertahankan eksistensi keadilan dan kasih Allah di tengah realita yang sebaliknya.  Menarik memperhatikan rangkaian pertanyaan dalam perikop ini (ayat 1-11).  Seolah Allah memberikan jawaban melalui tantanganNya kepada Ayub. Jelas Ayub tidak mampu, tetapi apakah berarti Allah-lah yang bertanggung jawab dibalik setiap peristiwa yang terjadi.  Tidak satu pun dari sekian pertanyaan yang menyediakan jawaban akan hal itu.   Tapi mengapa hal ini juga tidak dipakai sebagai kesempatan  menjelaskan posisi  dan peran Allah?  Semua pertanyaan tetap terbuka dan ‘tidak’ menjawab jelas sampai kemudian Ayub sendiri belajar sesuatu dari peristiwa tersebut.

Melalui perikop ini, khususnya rangkaian pertanyaan Allah, selaku orang percaya kita belajar mengenai keadilan dan kasih Allah, yaitu bahwa tidak untuk setiap peristiwa tersedia jawaban.  Allah berhak menjelaskan, sehingga kita mengerti;  sekaligus berhak untuk tidak menjelaskan.  Kuasa dan maksud dari yang tampak sepenuhnya berada di balik misteri Allah itu sendiri.  Tak satupun orang tahu apa yang akan terjadi.  Namun dibalik apa yang tampak, meskipun sulit dipahami, yakinilah bahwa semuanya didasarkan pada keadilan dan kasih Allah.   Menuduh Allah sebagai penyebab dari semuanya (seperti yang dilakukan Elihu)  tidak akan merubah keadaan.  Sebaliknya, malah menunjukkan kesombongan manusia yang seolah tahu segala sesuatu.  Kesunyian Allah bisa jadi merupakan koreksi sejauh mana posisi dan peran manusia, baik terhadap dirinya, sesama dan lingkungannya, yang bisa jadi  turut menjadi salah satu faktor penyebab penderitaan.   Perikop ini  mengajarkan kita untuk melihat  melampoi apa yang tampak.  Fokus pada apa yang bisa dilakukan, yaitu kepedulian terhadap yang menderita.   Jadikanlah penderitaan dan kesulitan hidup sebagai penguat hati dan kaki untuk berbagi kebaikan kepada sesama;  sembari tetap meyakini keadilan dan kasih Allah yang memberi hikmat untuk terus berkarya dalam kehidupan.

 Keadilan dan Kasih Allah dinyatakan demi kebaikan kita

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»