suplemenGKI.com

Selasa, 19 Juli 2011

18/07/2011

I Raja-Raja 3:1-3

Menabur Angin Menuai Badai

 Kalau kemarin kita telah melihat figur Salomo sebagai pribadi yang mempunyai kesadaran diri.  Hari ini kita lebih menyoroti kelemahan Salomo yang terjadi juga di awal kepemimpinannya sebagai raja.  

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

  1. Apa salah satu keputusan Salomo yang disebutkan di awal periko ini?  (ayat 1)
  2. Apakah keputusan Salomo menikah sesuai dengan pesan Daud? (Bdg dg 2:2-4)
  3. Apa yang sedang Salomo bangun ketika memutuskan menikah? (ayat 1)
  4. Hal apa lagi yang masih dilakukan Israel di masa pemerintahan Salomo? (ayat 2, 3)

 RENUNGAN

Memang tidak ada seorangpun yang sempurna tanpa kesalahan dalam hidupnya.  Namun bukan berarti kesalahan bisa diterima begitu saja sebagai sesuatu yang lumrah/wajar tanpa usaha untuk memperbaikinya.  Demikian juga yang terjadi dalam hidup Salomo.  Beberapa literatur umumnya menempatkan Salomo sebagai pribadi yang berhikmat, sehingga mampu mengambil keputusan yang sulit dengan tepat dan benar.  Sesungguhnya Salomo mempunyai kehidupan lain, yang seolah tersamarkan oleh keberhasilannya membangun Bait Allah yang mentereng

 Menjelang akhir hidupnya Daud berpesan agar Salomo melakukan “kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju” (2:3).  Tidak diceritakan bagaimana respons Salomo, yang pasti setelah itu ia “duduk di atas takhta Daud, ayahnya, dan kerajaannya sangat kokoh” (2:12) dan kemudian menikahi puteri Firaun, serta membawanya ke kota Daud (3:1).  Sebuah keputusan yang bertentangan dengan pesan Daud.  Pernikahan Salomo bukan hanya menjadi contoh yang buruk bagi Israel, tapi juga merupakan pernikahan politik, yang sangat mungkin didasari oleh kegamangan Salomo sebagai raja muda yang tidak berpengalaman.  Jelas Salomo gamang berhadapan dengan Mesir yang besar dan berbudaya Maju (Bdk dg. 9:16-19).Salomo telah melanggar pesan Daud supaya melakukan

 Salomo harus membayar mahal atas ketidaktaatannya ini.  Ibarat “menabur angin” maka yang ia tuai adalah “badai” yang akhirnya menghacurkan kehidupan pribadi dan  bangsanya.   Istri-istrinya mulai mencondongkan hati Salomo kepada allah-allah lain dengan segala ritual pengorbanannya (11:3-8), Salomo tidak peka lagi dengan teguran, maka TUHAN membangkitkan lawan-lawan bagi Salomo, keluarganya berantakan dan yang terakhir kerajaannya pecah.  Kisah tragis seorang raja yang hanya karena kemudaannya dan lebih mengikuti perasaannya, harus berakhir dengan cara yang memilukan.

Pengalaman kegagalan Salomo memberikan pelajaran bahwa bukti kesetiaan berjalan seiring dengan proses hidup itu sendiri.  Kesetiaan bukanlah momen sesaat, tetapi merupakan pergumulan sepanjang hidup untuk selalu memilih apa yang TUHAN mau.  Namun, mengikut TUHAN juga tidak berarti bahwa kita akan menjadi pribadi yang sempurna, sehingga sama sekali tidak bisa salah.  Justru mengikut TUHAN makin menyadarkan betapa rapuh dan tidak berdayanya kemanusiawian kita.  Itu sebabnya, hanya kepadaNyalah kita mohon hikmat dan kekuatan sambil terus menguji diri, sudahkah aku melakukan yang terbaik seturut kebenaranNya. 

 Siapa menabur kebajikan, ia akan menuai  kebenaran dan kebahagiaan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*