suplemenGKI.com

Selasa, 17 Mei 2016.

16/05/2016

Amsal 8:22-36.

 

Hikmat Dari Allah Adalah Kekal Adanya

Pengantar:

Konsisten biasa diartikan sebagai sesuatu yang bersifat “tetap” atau “tidak berubah-ubah” Setiap orang pasti lebih menyukai kekonsistenan, karena sesuatu atau orang maupun ucapan yang sifatnya konsisten akan lebih memberikan jaminan dan kepastian. Tetapi jika kita harus jujur, dunia ini sedang dilanda penyakit ketidak-konsistenan. Contoh, jika saja setiap orang konsisten dengan apa yang diucapkannya, maka mungkin sudah tidak ada lagi kebohongan, kecurigaan yang bisa mengakibatkan rasa saling tidak percaya satu sama lain, baik dalam lingkup keluarga maupun persekutuan atau gereja.

Pemahaman:

1)   Siapakah unsur “aku” dalam dalam Amsal 8:22-31 pada bacaan kita hari ini?

2)   Apakah yang hendak dijelaskan penulis melalui penggambaran tentang alam semesta?

3)   Apakah maksud seruan dari “aku” agar orang-orang mendengar seruannya! (v. 32-36)

Kemarin kita sudah mendapatkan gambaran bahwa Hikmat itu dipersonifikasikan dengan Allah sendiri. Karena Amsal 8 ini adalah berbicara tentang wejangan hikmat, dan bacaan hari ini adalah kelanjutan dari bacaan kemarin, maka dengan tidak ragu kita bisa mengatakan bahwa unsur “aku” dalam bagian ini adalah personifikasi dari Allah sendiri Sang sumber hikmat itu. Penghayatan yang hendak ditekankan dalam bacaan hari ini adalah bahwa hikmat yang bersumber dari Allah adalah bersifat kekal, tetap atau konsisten. Dengan demikian, jika kita memiliki atau dipenuhi oleh hikmat dari Allah melalui hidup bergaul dengan firman-Nya, maka hidup kita akan selalu dituntun pada kebenaran, ketenangan dan kebahagiaan dalam firman-Nya secara terus-menerus.

Hikmat Allah yang bersifat kekal itu digambarkan dengan keberadaannya yang lebih dahulu dari semua ciptaan yang lain. Bahkan bukan saja keberadaannya lebih dahulu tetapi juga berkuasa atas segala ciptaan yang lain. Ayat. 30 “aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan….” menurut tafsiran The Wycliffe Bible Commentary diartikan sebagai “Aku mengatur” Tentu terkait dengan penciptaan. Bagian ini semakin memperkuat pemahaman kita bahwa hikmat Allah itu bersifat kekal.

Menyadari bahwa begitu pentingnya hikmat Allah yang bersifat kekal itu, makaseruan untuk mendengarkan, jangan mengabaikan tetapi mendapatkan hikmat Tuhan itu menjadi hal yang mutlak, sehingga kita tidak menolak, melainkan menyambut, menerima hikmat Tuhan itu, karena dengan demikian kita akan menikmati hidup yang berbahagia.

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak, mengapa kita sering tidak merasakan kebahagiaan dalam hidup ini! Mungkin karena kita belum membuka hati untuk menyambut hikmat Tuhan melalui firman-Nya.

Tekad:
Setiap kali membaca, mendengar firman Tuhan, kita akan dengan rendah hati menyambutnya dan bukan menolak atau mengkritiknya.

Tindakan:
Menjadikan firman Tuhan yang kekal itu sebagai santapan ternikmat dalam hidup setiap hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»